Sibuk Melayani Para Rent Seeker

Oleh: Fauzi Azis

Fauzi Azis

Fauzi Azis

RENT seeker atau para pemburu rente adalah sejumlah manusia yang hendak mengembangkan kerajaan bisnisnya dengan cara mempengaruhi pihak penguasa di pusat-pusat pemerintahan dan juga para legislator untuk mendapatkan berbagai konsensi secara at all cost. Praktek para rent seeker ini terjadi dimana mana di negara maju maupun di negara berkembang seperti juga di Indonesia.

Demi konsesi, para aktor rent seeker ibaratnya bekerja 24 jam untukuk mendapatkan apa yang menjadi ladang buruannya. Ladang-ladang tersebut bisa berupa penguasaaan ladang migas, industri petrokimia, industri keuangan, lahan untuk property dan banyak lagi bidang buruannya (termasuk berburu proyek-proyek APBN/APBD, BUMN/BUMD, seperti proyek hambalang dan lain-lain).

Pembuatan peraturan perundangan, konsensi perizinan bisa dijadikan alat untuk melegitimasi apa yang sedang diikhtiarkannya. Sogok, suap, wanita cantik, property mewah, mobil mewah, saham bahkan sampai jabatan penting di pemerintahan menjadi hadiahnya jika buruannya berhasil didapatkannya.

Jangan heran kalau kemudian banyak Orang Kaya Baru (OKB) di lingkungan pejabat negara dan elit politik. Di lembaga-lembaga internasional seperti IMF, Bank Dunia, WTO banyak perusahaan multinasional dan transnasional mendapatkan berbagai kesempatan untuk memperkuat jaringan bisnisnya.

Lembaga-lembaga tersebut berlindung atas nama pertumbuhan, mekanisme pasar dan perlindungan property right dalam membuat kebijakan dan aturan main di bidang investasi dan perdagangan. Prakteknya sangat canggih, sistemik dan terstruktur sehingga hampir sulit dijangkau oleh ranah hukum karena peraturan perundangan yang diciptakannya secara sistematis dari awal sudah didesain untuk melindungi mereka.

UU tentang pencucian uang, UU anti korupsi. UU anti monopoli, anti trust tidak dapat dengan mudah menelusuri praktek para pemburu rente ini. Saat ini kita sibuk berdiskusi tentang kedaulatan ekonomi, kedaulatan negara. Diskusi itu penting, tapi apakah kita kuat untuk mewujudkannya tentang konsep kedaulatan ekonomi?

Sementara perselingkuhan antara penguasa dan elit politiknya dengan para rent seeker terus berjalan. Pangan dan energi telah menjadi isu strategik global dan hampir pasti praktek perburuan rente di dua bidang itu akan makin marak dan menarik dengan perputaran uang dan aset bisa milyaran USD nilainya.

Indonesia menjadi ladang buruan yang menarik, apalagi praktek perpolitikan dinegeri sangat pragmatis dan transaksional. Perselingkungan itu terjadi kapan saja dan dimana saja. Bungkusnyapun beragam, kalau di tingkat dunia kita kenal World Economic Forum (WEF), pertemuan G20 dan lain-lain.

Di dalam negeri hotel-hotel bintang lima dengan pintu/lorong khusus juga tempat perselingkuhan yang mengasikkan antara para pemburu rente dengann para penguasa dan elit politik. Selama 10 tahun berkuasa, boleh jadi waktunya hanya akan habis untukuk melayani para pemburu rente dari yang kelas kakap, sampai yang sedeng-sedeng saja, bahkan kelas teripun ada yang coba-coba berselingkuh.

Misal untuk pengadaan alat tulis kantor dikantor-kantor pemerintah di pusat/daerah. Bayangkan kalau waktunya habis untuk melayani para pemburu rente, kapan mereka ngurusi rakyatnya, wong cilik, buruh, tani dan nelayan. Kalau hidungnya sudah dicocok oleh para rent secker dan kenikmatannya sudah dipuaskannya, apakah mereka para penguasa dan elit politiknya bisa berjuang netral dan independen memperjuangkan kepentingan nasional, mewujudkan kedaulatan ekonomi dan kedaulatan negara. Hanya Tuhan Yang Tahu.

Demokrasi yes, Libarisme dan Kapitalisme sepertinya sedang digoyang dan sepertinya goyangannya makin keras. Perancis telah berhasil dipimpin oleh tokoh sosialis. Yunani yang hampir bangkrut, arah politiknya juga sedang menuju ke sistem politik. Dan elonomi yang tidak liberal.

Rusia dan China mesra bergandengan tangan untuk mengimbangi kekuatan AS yang mulai loyo di dunia. Pertanyaannya adalah pergeseran apapun di bidang sistem politik dan ekonomi yang terjadi, mampukah para penguasanya dan elitnya tidak akan sibuk lagi melayani para pemburu rente.

Kita tunggu dan kita lihat saja hasilnya. Yang kita tahu judi tak pernah mati, perburuan rente sepertinya juga akan mengalami hal yang sama. ***

Berita Terkait

Komentar

Komentar