Siklus Bisnis Sedang Menuju Konsolidasi Akumulasi Aset dan Ekuitas

Oleh: Fauzi Aziz

 

 

PERTAMA, penulis percaya ada fenomena dan dinamika ekonomi dan bisnis yang bisa mempengaruhi siklus bisnis seluruh unit institusi ekonomi. Mereka itu adalah institusi ekonomi negara, institusi ekonomi perusahaan swasta dan institusi ekonomi rumah tangga.

Selama masa pandemi covid 19 hampir semua institusi ekonomi “lumpuh” akibat tertekan oleh perputaran virus covid 19. Liga ekonomi global harus “takluk” dengan tim liga virus covid 19 yang datang pertama kali dari Wuhan Tiongkok. Amazing, luar biasa, terus apa yang terjadi setelah itu.

KEDUA, yang bisa kita lihat dan kita catat adalah bahwa pada tahun 2020  ekonomi Tiongkok masih tumbuh positif, meskipun hanya 2,3%, dan Vietnam hanya 2,9%. Sejumlah negara lain tumbuh negatif, yakni AS (-3,5%), UE (-6,4%), Korsel (-1, 0%), Hongkong (-6,1%), Singapura (-5, 8%) dan Indonesia (-2, 07%).

Yang tumbuh positif tapi sedang tidak begitu incoming adalah Tiongkok dan Vietnam. Yang tumbuh negatif dan tidak  incoming adalah AS, UE, Hongkong, Singapura, Indonesia dan korsel. Akibat tidak sedang incoming, maka utang global selama setahun pandemi covid 19 naik USD 24  triliun.

Semua negara cenderung mengalami debt trap karena total nilai aset lancar, ekuitas,dsn pendapatan  turun drastis akibat siklus bisnis yang hanya bisa bergerak seperti siput.

KETIGA, tahun ini adalah fase konsolidasi untuk pemulihan yang rutenya juga sangat terjal. Upaya yang ditempuh tidak sekedar supaya siklus bisnis kembali normal, tapi harapannya adalah bahwa nilai aset lancar,ekuitas,dan pendapatan  yang disumbang institusi- institusi ekonomi dapat kembali expected income and profit.

Kegiatan produksi dan distribusi barang dan jasa harus diberikan kesempatan untuk berputar kembali meskipun belum full speed agar bisa segera bayar gaji buruh dan karyawan yang sekian lamanya dirumahkan. Melunasi tagihan para vendor dari kegiatan  industri terkait dan industri pendukung , mulai bisa nyicil pinjaman jangka pendek yang sempat direstrukturisasi, dan menghimpun kembali kekuatan supaya mampu mencetak laba bersih sehingga bisa bayar deviden, tanpa harus melepaskan aset tetapnya.

Kita Rawat

Kita rawat dulu seluruh harapan ini hingga semua kembali pulih. Beri kesempatan seluruh institusi ekonomi bisa bernafas lega menghirup udara segar menyongsong hari esok yang lebih baik.

Jangan dulu bebani di pundak mereka beban yang sejatinya belum mampu mereka pikul. Fase konsolidasi untuk pemulihan ini juga harus memberi ruang kepada investor baru untuk merealisasikan rencana investasinya yang selama ini tertunda atau wait and see.

KEEMPAT, jelas berarti bahwa selama fase konsolidasi untuk pemulihan ini, mekanisme pasar diharapkan tidak mengalami gangguan dan hambatan akibat adanya kebijakan dan regulasi yang tidak pro- pasar.

Semua produk kebijakan dan regulasi, baik yang akan  dibuat oleh pemerintah pusat/daerah yang secara potensial justru  menimbulkan sentimen negatif di pasar sebaiknya ditunda saja ,sambil dilakukan kaji ulang aspek biaya dan manfaatnya.

Penulis perlu sampaikan catatan ini karena hampir sebagian besar kinerja dari setiap institusi ekonomi dalam berbagai skala usaha pada dasarnya sangat tergantung dari sifat kebijakan makro ekonomi yang mempengaruhinya, baik kebijakan fiskal maupun kebijakan moneter. Apa yang menjadi harapan adalah harus pro-bisnis atau pro-pasar. Berarti bahwa  ada sejumlah tantangan yang lazim perlu direspon, yakni : 1) harus efektif mengendalikan inflasi (kenaikan harga barang dan jasa. 2) kebijakan makro ekonomi hadir untuk menstimulasi investasi modal agar ICORnya rendah. 3) dapat mengelola nilai tukar mata uang karena bisnis lebih membutuhkan stabilitas ketimbang volatilitas. 4) dapat efektif menangani pengangguran. 5) mengelola  APBN secara efektif, efisien, transparan dan akuntabel agar dapat menekan defisit anggaran. 6) dapat memitigasi dampak gejolak ekonomi eksternal agar kegiatan ekonomi dalam negeri tetap survival. Secara singkat berarti bahwa kebijakan makro ekonomi  sebagai penjaga pasar, fasilitator dan katalisator pasar, serta sebagai pelindung pasar (market protection ) dapat berfungsi optimal mengawal semuanya itu tanpa menimbulkan distorsi pasar

KELIMA, dari hal- hal yang penulis sampaikan  tersebut, maka siapapun yang mendapat mandat mengelola kebijakan ekonomi makro,mska secara teknokratik pasti akan menjalankan politik ekonomi makro dengan platform seperti yang penulis bahas tersebut di atas.

Meskipun tetap  akan mengakomodasi pula faktor non ekonomi dalam pengambilan keputusan penting dan strategis yang menyangkut hajat hidup orang banyak.

Jadi sejatinya bahwa proses yang sedang berjalan ini adalah fase dimana seluruh institusi ekonomi sedang melakukan proses konsolidasi internal agar dapat kembali  ke pasar dengan harapan baru. Mereka sedang mencoba melakukan re-balancing agar bisa survival, tumbuh dan berkembang dalam situasi normal baru.

KEENAM, re-balancing supply-demand, re-balancing produksi dan distribusi barang dan jasa. melakukan konsolidasi neraca perusahaan dan neraca laba-rugi, merapikan utang -piutang agar tidak terjadi gagal bayar dan tidak ada piutang ragu-ragu, dan menghindari terjadinya penghapusan piutang.

On-top dari itu adalah penyelamatan cashflow dan pelepasan persediaan barang dalam gudang. Case pembebasan PPn-BM kendaraan roda-4 cc 1500 ke bawah adalah cara pemerintah membantu kesulitan penjualan mobil yang dihadapi produsen dan distributor.

Hal itu terjadi karena produksi mobil minus 46,37%, dan perdagangan mobil wholesale minus 48,35% (sumber BPS, 2020). Dalam proses  konsolidasi untuk pemulihan tersebut maka kebijakan makro ekonomi semestinya lebih fokus  memberikan ruang bagi proses  konsolidasi bagi setiap Institusi ekonomi, tanpa ada beban tambahan sedikitpun hingga semua kembali berjalan normal.

Tindakan untuk menaikkan suku bunga dan tarif pajak saat ini bukan merupakan upaya yang tepat untuk dilakukan. Menaikkan tarif PPN semakin membuat Garuda tidak bisa terbang. Pun jika harga tarif dasar listrik, dan BBM atau harga gas naik  karena tarif PPN naik akan semakin banyak pengguna listrik yang membayar abonemennya menggunakan kartu kredit daripada kartu debet.

Kita optimis ekonomi akan pulih, meskipun masih diselimuti kabut ketidakpastian. Prediksi terbaru Bank Dunia mengabarkan bahwa ekonomi Indonesia tahun 2021 akan tumbuh sekitar 4%, dan tahun 2022 sekitar 5%.Optimisme dengan sejumlah masalah berat adalah fakta yang ada di depan mata.

Bersikap grusa -grusu dan trial and error harus dihindari jika kita berharap fase pemulihan dapat lebih cepat terjadi. Not easy but very hard. Tapi sesulit dan seberat apapun masalah yang kita hadapi, Insya Allah bisa diatasi dengan kerjasama dan kerja bersama guna mengatasi pandemi covid 19 , dan pemulihan ekonomi tanpa harus ada gangguan narasi  politik yang tidak penting. (penulis pemerhati ekonomi dan industri tinggal di Jakarta)

 

Berita Terkait

Komentar

Komentar