SIMPOSIUM SAGU DI MANOKWARI Pengembangan Sagu untuk Kesejahteraan Masyarakat

Laporan: Redaksi

ilustrasi

JAKARTA, (tubasmedia.com) – Gubernur Papua Barat Abraham Octavianus Atururi membuka Simposium Sagu Internasional ke-11, Rabu, 6 November 2013 pukul 09.30 Waktu Indonesia bagian Timur (WIT) di Pusat Konferensi Hotel Aston Niu Manokwari, Papua Barat.

Sebelum membuka secara resmi dengan memukul Tifa 5 kali, sesudah memberikan pengarahan dan sambutan resmi, Abraham Atururi secara bergurau mengatakan, dengan membicarakan sagu kita sebenarnya sedang membedah “perut orang Papua”. Gubernur Papua Barat mengatakan, sagu adalah makanan pokok orang Papua, terutama mereka yang bermukim di daerah pantai.

“Kita bisa besar seperti ini karena kita memakan sagu sejak dulu”, imbuhnya, seperti dilaporkan S.M. Doloksaribu, pakar lingkungan, yang juga peserta simposium tersebut.

Dikemukakan, begitu dekat hubungan orang Papua dengan sagu, sehingga saat membicarakan sagu dalam simposium diharapkan seluruh aspek diperhatikan. Dengan demikian, dalam pengembangan pohon sagu, pohon yang multifungsi itu dapat memberikan kesejahteraan bagi orang Papua dan masyarakat yang lebih luas, bahkan dunia.

Kontribusi Positif

Menteri Lingkungan Hidup Prof. Dr. Balthasar Kambuaya, MBA., dalam keynote speech, yang dibacakan Hari Wahyudi, antara lain, mengatakan, upaya pemanfaatan sagu yang berkelanjutan di Papua diharapkan dapat memberikan kontribusi positif terhadap upaya peningkatan kualitas lingkungan hidup di Indonesia.

Menurut Menteri LH, di Indonesia lingkungan hidup telah banyak yang rusak dan cemar serta sumber daya alam semakin terkikis. Tidak ada waktu untuk menyesali, namun kondisi ini harus menjadi wake-up call kepada kita semua, membangkitkan kita semua untuk bersama-sama berupaya meningkatkan kapasitas diri dalam mengatasi semua permasalahan lingkungan hidup.

Ia berharap agar upaya yang dilakukan melalui simposium ini tidak hanya memberikan solusi teknologi pemanfaatan sagu yang berkelanjutan, namun juga mengarahkan pola perilaku masyarakat dalam mengonsumsi dan memproduksi tanaman sagu dan hasil olahannya.

Senada dengan Menteri LH, John Cutts, orang Amerika yang sejak usia 2 tahun tumbuh-kembang di dalam hutan sagu Papua, mengingatkan akan makna hutan sagu dan manusia dalam tradisi Papua.

Kebijakan Pangan

Sementara itu, S.M. Doloksaribu, Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat dan Pengembangan Bisnis Universitas Kristen Indonesia (LPPMPB-UKI) Jakarta, meminta agar pemerintah membuat “Kebijakan dan Perencanaan Pangan Nasional”. Kebiijakan pangan nasional diperlukan agar sumber pangan yang kita miliki turun-temurun tidak tergusur oleh pangan impor akibat dari kebijkan pangan, pertanian dan perdagangan global yang tidak kita kuasai.

Ia mengingatkan agar pemerintah Indonesia memberikan perhatian yang cukup atas pohon pemberi kehidupan, sagu, agar ketika masyarakat dunia semakin sadar dalam memanfaatkan sagu, kita tidak malah menjadi konsumer dari pohon multifungsi tersebut. Hutan sagu jika tidak diproteksi dengan kebijakan kehutanan dan pangan yang baik akan dengan mudah beralih fungsi. Bahkan, akan sangat mudah diambil oleh investor asing. Hutan sagu tetap memiliki aspek sosial dan belakangan aspek industri yang harus dikelola dengan baik.

Freddy Numberi, tokoh Papua, mantan Menteri Perhubungan di Era Reformasi,mengingatkan supaya prospek pengembangan sagu jangan sampai melupakan aspek sosial atau jangan sampai orang Papua tidak mendapatkan manfaat ketika semakin banyak orang melirik potensi sagu sebagai tanaman multifungsi. Ia mengharapkan agar semua pihak sadar betapa pentingnya peran masyarakat tradisional dalam pengembangan sagu.

Rosa S. Rolle, Ph.D., Senior Agro Industries and Post-Harvest OfficerAsia Pacific FAO, memberikan penekanan pada potensi, isu dan gap persaguan di Asia-Pasifik. Seperti diketahui dari beragam jenis sagu hampir seluruhnya, tumbuh tersebar di kawasan Asia-Pasifik, mulai dari Thailand sampai Kepulauan Samoa, dan sekitar lima puluh persen dari biomassa sagu itu tumbuh di Papua. Dalam situasi persaguan yang berkembang sekarang, dia mengharapkan agar peran jejaring penggiat sagu ditingkatkan untuk meningkatkan manfaat sagu untuk kelestarian dan kesejahteraan masyarakat di masa depan.

Simposium dihadiri sekitar 100 ahli sagu dari berbagai negara, seperti Jepang, Thailand, Malaysia, Amerika, dan Indonesia, pejabat pemerintah terkait dari Jakarta, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten di Papua Barat, tokoh adat Papua, pelaku bisnis sagu, peneliti sagu dari BPPT, ahli biologi, lingkungan, agronomi, industri, serta dari berbagai universitas, antara lain, UKI Jakarta, Universitas Cendrawasih, Universitas Papua, Universitas Pattimura, Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada. Juga hadir HS Dillon, utusan khusus Presiden untuk pengentasan orang miskin.

Simposium dilaksanakan bersama oleh PT ANJ Agri Papua, Universitas Negeri Papua, dan Perhimpunan Penggunaan Sagu Indonesia (PPSI), berlangsung hingga 8 November 2013 yang diakhiri dengan tinjauan lapangan (excursion) melihat model hutan sagu di sekitar Manokwari. (ender)

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.