Sisi Gelap Kehidupan Metropolitan

Laporan: Redaksi

Poster Film Jakarta Hati

Poster Film Jakarta Hati

JAKARTA, (TubasMedia.Com) – Balinale International Film Festival (Balinale) 2012 digelar pada 22-28 Oktober lalu di Beachwalk Kuta Bali. Film berjudul Jakarta Hati berkesempatan menjadi pembuka acara dalam festival tersebut. Jakarta Hati merupakan film omnibus yang terdiri dari enam cerita dan disutradarai oleh Salman Aristo.

Bintang-bintang papan atas Indonesia turut menyemarakkan film tersebut, seperti Dion Wiyoko, Slamet Rahardjo, Shahnaz Haque, Framly Nainggolan, Surya Saputra, Asmirandah, Roy Marten, Andhika Saputra, Didi Petet dan artis-artis lainnya. Film ini menceritakan enam kisah yang terjadi bersamaan di kota Jakarta. Berikut adalah ringkasan kisah-kisahnya.

Masih Ada

Seorang laki-laki paruh baya memakai safari sedang marah-marah dengan supirnya. Di sebuah rumah mewah dengan parkir luas. Mobilnya rusak. Mobil lain dipakai istrinya ke salon sejak subuh. Ada gathering. Mobil anaknya belum kembali dari semalam. Sementara dia harus sampai ke Senayan, sebelum jam 11 siang.

Kisah perjalanan seorang anggota dewan di Jakarta, di antara keluh kesah warga tentang kotanya: di tangannya ada tas olahraga berisi uang kontan satu miliar hasil bagi-bagi korupsi dan fakta seorang anak kecil yang dipukuli karena nyolong sepotong tempe akibat lapar.

Kabar Baik

Di kantor polisi, seorang polisi muda sedang berhadapan dengan laki-laki paruh baya yang masih tampak gagah. Mereka sedang mengisi berkas BAP. Kasus penipuan laki-laki itu melibatkan banyak perempuan. Soal arisan berantai.

Laki-laki itu adalah ayah dari si polisi. Sudah lima tahun lenyap. Ibunya masih terus berharap dan menunggu karena cinta. Sementara laki-laki ini mengatakan kalau si polisi sekarang sudah memiliki adik berumur 5 tahun yang hari ini berulang tahun. Si polisi ragu. Ayahnya ini tukang kibul kelas kakap. Si polisi terbentur dilema.

Hadiah

Seorang penulis sedang sibuk ditelepon temannya untuk mengambil sebuah proyek. Menulis film komedi seks kacangan. Si penulis memang sedang kronis kondisi keuangannya. Rp 50.000 baru saja dipakai untuk membeli pulsa elektronik yang belum juga masuk. Sementara sisa setengahnya untuk hidup hari ini. Sang teman yang berniat membantu itu terus mendesak agar si penulis menelepon langsung produsernya.

Anak laki-lakinya, 8 tahun, merengek ingin datang ke ulang tahun teman sebangkunya di dekat rumah. Akhirnya, mereka pergi ke mal terdekat, membeli kado versi palsu sandal karet mahal dan pulang jalan kaki karena menghemat ongkos. Kertas kado pun tak dibeli. Sampai di tempat, si penulis baru tahu kalau ini pesta anak orang kaya. Dia harus menerima tatapan sinis para orangtua yang datang dengan kondisi wangi dan kinclong.

Dalam Gelap

Lepas maghrib, mendadak satu area di kawasan Jakarta mati lampu. Sepertinya terkena giliran pemadaman. Pasangan suami-istri muda pun terkena imbasnya. Mereka jadi harus saling bicara satu sama lain.

Biasanya, kalau lampu menyala, mereka sibuk sendiri-sendiri. Satunya baca novel, satunya nonton televisi. Atau kegiatannya lainnya. Sekarang dalam gelap, hubungan mereka yang sudah kering itu mendadak dipertaruhkan: ekspektasi, perselingkuhan yang tadinya dalam keadaan terang saling didiamkan, dan lainnya.

Orang Lain

Seorang laki-laki, pertengahan 30-an, sedang menggoyangkan gelas alkoholnya di meja bar sebuah pub kecil. Lalu dia tersenyum tipis mencelupkan cincin kawinnya ke dalam gelas. Dari gelas itu dia melihat ada perempuan cantik awal 20-an mendekat. Perempuan itu membuka percakapan, “Istri Anda selingkuh dengan pacar saya.”

Selanjutnya mereka berdua menyisiri malam Jakarta. Mempertanyakan siapa yang telah menjadi orang lain dalam hubungan yang cedera itu. Mereka atau pasangan mereka yang berselingkuh? Menjelang subuh mereka pun mencoba memutuskan itu semua.

Darling Fatimah

Di Pasar Senen, seorang perempuan keturunan Pakistan sedang melayani para pembelinya. Cantik di ujung usia 40-an. Lantas datang pemuda keturunan China umur 20-an, seorang broker pemesanan kue.

Keduanya bertengkar dengan lontaran kosa kata yang terasa kasar bagi telinga Jakarta yang lebih sopan. Tapi, yang mereka bicarakan kehangatan cinta. Keduanya sedang membahas hubungan mereka. Mulai dari cemburu, keinginan kuat menikah, bagaimana menangani calon ipar dan lainnya, sampai pada satu titik keputusan yang diambil.

Film bergenre drama yang akan mulai ditayang di bioskop-bioskop Tanah Air pada 8 November mendatang ini diproduseri Lavesh M. Samtani dan Manoj K. Samtani. Kita dapat menyaksikannya selama 114 menit. (stevie)

Berita Terkait

Komentar

Komentar