Standar IKM RI di Bawah ASEAN

Laporan: Redaksi

Euis Saedah

Euis Saedah

JAKARTA, (Tubas) – Kemasan produk makanan dan minuman industri kecil menengah (IKM) Indonesia tampaknya masih kalah saing dengan kemasan produk makanan dan minuman negara-negara ASEAN. Padahal secara kualitas rasa, produk lokal lebih baik dibandingkan produk luar negeri.

Demikian Dirjen Industri Kecil Menengah (IKM) Kementerian Perindustrian, Euis Saedah saat membuka Sumatera Barat Food & Craft Fair IV di lobby Kementerian Perindustrian, Jakarta pekan silam. “Minimnya informasi tentang teknologi pengemasan dan mahalnya biaya pengemasan menjadi penyebabnya,” tegas Euis.

Dia mengakui bahwa kemasan produk makanan dan minuman Indonesia kalah bersaing dengan Malaysia atau Singapura. Pelaku industri makanan dan minuman kata Euis tidak mampu mengemas produknya akibat mahalnya biaya pengemasan yang mencapai Rp 10 ribu bila sesuai standar.

Selain itu, Indonesia juga kalah dalam produk perhiasan. Produk-produk perhiasan Indonesia masih di bawah standar, seperti produk perhiasan emas, logam, perak, dan batu-batuan.

Diberi contoh para pelaku industri perhiasan di Pacitan. Kendati secara desain bagus, pelaku industri Pacitan umumnya menjual batu-batuan dalam ukuran besar. Sementara Filipina, batu-batu perhiasan dijual dalam berbagai ukuran mulai dari 0,1 mm hingga ukuran besar.

Menurut Euis, kondisi ini menjadi kendala dalam rencana penerapan standar produk menyusul rencana pemberlakuan ASEAN Economic Community pada 2015 nanti. “Harus diakui saat ini standar produk IKM Indonesia lebih rendah dari standar ASEAN. Harus ada peningkatan standar itu,” katanya.

Euis mengatakan, ada delapan rekomendasi kebijakan untuk peningkatan standar produk IKM di kancah ASEAN. Kebijakan tersebut meliputi kebijakan matriks, standar, teknologi, pembiayaan yang berkesinambungan, jaringan produksi, teknologi informasi, kerjasama antar-IKM, dan finansial.

Selain itu, pemerintah akan membuat jangkar-jangkar industri di beberapa daerah seperti Bali, Sumatra Barat, NTB, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Sumatera Selatan. Daerah-daerah tersebut menjadi lokomotif bagi daerah lainnya dalam pengembangan produk-produknya.

“Kendati industri kreatif Indonesia maju, standar produk dan kemasan harus ditingkatkan. Kebijakan tersebut diharapkan menjadi jalan ampuh dalam memasuki pasar ASEAN,” ungkapnya. (sabar)

Berita Terkait

Older Post

Komentar

Komentar