Strategi Perbaikan Jalan Raya

Oleh: Efendy Tambunan

Ilustrasi

Ilustrasi

PERMUKAAN jaringan jalan yang banyak berlubang akibat banjir, telah memakan banyak korban. Sejumlah LSM akan menuntut Pemprov DKI karena belum memperbaiki jalan berlubang yang menyebabkan banyak kecelakaan, khususnya pengendara sepeda motor.

Untuk merespon masalah ini, Pemprov DKI mengadakan workshop 23 Januari 2013 yang dibuka Wagub Pemprov DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama. Workshop dihadiri antara lain Asisten dan Kepala Dinas Pemprov DKI Jakarta yang terkait jaringan jalan, Puslitbang Jalan dan Jembatan Kementerian PU, Asosiasi Aspal Beton Indonesia, Inkindo DKI Jakarta, dan sejumlah pakar dari perguruan tinggi di wilayah Jakarta. Sebagai pakar yang diundang, penulis memberikan sejumlah masukan untuk melakukan strategi perbaikan jalan.

Berdasarkan informasi yang dipresentasikan Dinas PU Pemprov DKI Jakarta, total kerusakan jalan mencapai 3.875 titik seluas 473.459 meter persegi. Seiring dengan perjalanan waktu, kemungkinan jumlah kerusakan jalan akan terus bertambah dan semakin parah.

Pemprov DKI Jakarta melalui Suku Dinas di lima wilayah mempunyai petugas lapangan yang terbatas untuk mendata jumlah titik kerusakan jalan, Hal ini berbeda dengan Kementerian Pekerjaaan Umum yang mempunyai Penilik Jalan yang berkeliling setiap hari memeriksa kondisi jalan.

Mengingat terbatasnya petugas lapangan, Pemprov DKI Jakarta membuka posko pengaduan jalan rusak melalui nomor telepon, twitter, e-mail dan situs web. Posko pengaduan ini dapat dimanfaatkan masyarakat untuk melaporkan persoalan di lapangan dan petugas akan segera mengecek kebenaran informasi tersebut.

Pemprov DKI akan melakukan perbaikan kerusakan jalan dengan segera dan berbiaya murah. Perbaikan jalan dtargetkan selesai dalam satu bulan. Kendalanya, jalan tidak bisa segera diperbaiki karena terganggu oleh curah hujan dan air yang menggenang di lokasi jalan rusak.

Dampak Banjir

Berdasarkan geomorfologi, wilayah Jakarta mempunyai dataran rendah 40%. Permukaan tanah yang turun karena eksploitasi air tanah dalam skala masif mengakibatkan sebahagian wilayah Jakarta seperti cekungan. Naiknya permukaan laut Teluk Jakarta, intensitas curah hujan tinggi akhir-akhir ini dan ruang terbuka hijau yang tersisa hanya 9,8% mengakibatkan hampit setengah wilayah Jakarta berubah menjadi waduk penampungan air.

Menurut Kementerian Pekerjaan Umum, penyempitan lebar Kali Ciliwung di daerah hilir hingga tinggal 15-20 meter dari normalnya 35 hingga 50 meter. Rendahnya tanggul untuk menghadapi air pasang di sepanjang Pasar Ikan, Penjaringan, Jakarta Utara, juga mengakibatkan wilayah Jakarta berdataran rendah rawan terhadap banjir.

Banjir tidak hanya berdampak terhadap korban jiwa dan harta, tetapi juga merusak permukaan jalan yang berkonstruksi aspal. Genangan air di jalan yang bercampur lumpur dan air sungai yang bersifat asam, akan mempercepat kerusakan permukaan jalan.

Kondisi akan mengakibatkan kecelakaan, berkurangnya kecepatan, gerakan kendaraan zigzag dan macet. Jalan berlubang yang tergenang air akan membahayakan pengendara, khususnya pengendara sepeda motor. Banyak terjadi kecelakaan sepeda motor, baik yang resmi tercatat maupun tidak tercatat.

Dampak dan antisipasi banjir terhadap infrastruktur transportasi oleh Pemprov DKI Jakarta masih ditangani sangat konvensional dan tidak profesional. Padahal wilayah Jakarta sudah sering dilanda banjir. Kristalisasi pengalaman penanganan banjir tidak terjadi karena pihak Pemprov DKI Jakarta terkesan gagap menangani banjir pada tanggal 17 Januari 2013.

Salah satu upaya yang dilakukan Pemprov DKI Jakarta adalah mengurangi banjir dengan melakukan rekayasa hujan. Melalui kerjasama antara Pemprov DKI Jakarta dengan BPPT yang berbiaya Rp 13 miliar, hujan akan dialihkan ke laut dengan tujuan mengurangi curah hujan sebesar 30%.

Perbaikan Jaringan Jalan

Berdasarkan survey lalu lintas 29 November – 8 Desember 2011 di jam sibuk (pagi dan sore) yang dilakukan penulis di Jalan Mayjen Sutoyo, Gatot Subroto, Jalan Suparman dan Lenteng Agung, jumlah sepeda motor per 15 menit rata-rata 1.375 unit, kendaraan ringan 827 unit, dan kendaraan berat 28 unit. Artinya, beban repetisi jaringan jalan di Jakarta sangat berat.

Menurut para pakar transportasi, selain beban repetisi, pertambahan beban statis dan dinamis akan mempengaruhi umur layanan jalan. Meningkatnya jumlah kendaraan bermotor membebani jaringan jalan dan menimbulkan kemacetan dimana mana. Kemacetan menambah beban statis dan beban dinamis jaringan jalan. Alhasil, umur layanan jaringan jalan akan semakin singkat.

Para pakar transportasi juga berpendapat bahwa tingkat kerusakan jalan juga disebabkan lambannya penangangan dalam perbaikan jalan. Jika tidak segera diperbaiki, jumlah kerusakan jalan akan semakin bertambah dan tingkat kerusakan semakin parah dan bergerak secara eksponsial. Kombinasi dari beban repetisi, statis, dinamis dan genangan air berkadar asam akan berakumulasi mempercepat kerusakan jaringan jalan.

Untuk mencegah percepatan tingkat kerusakan jalan akibat banjir, pergantian konstruksi perkerasan jalan dari fleksibel (aspal) ke rigid (beton) dapat dilakukan tetapi membutuhkan biaya besar. Penelitian material konstruksi jalan fleksibel yang tahan terhadap genangan air yang bersifat asam dengan biaya yang tidak jauh berbeda dengan aspal yang selama ini digunakan menjadi tantangan dan peluang bagi para peneliti dan kontraktor.

Banjir yang melanda sebahagian besar wilayah Jakarta menjadi pelajaran berharga bagi semua pemangku kepentingan. Belajar dari lemahnya koordinasi saat penanganan banjir, Pemprov DKI Jakarta bersama instansi terkait dan masyarakat harus belajar menangani mitigasi banjir untuk mengurangi korban jiwa dan harta benda. (penulis adalah Dosen Teknik Sipil UKI dan direktur Toba Borneo Institut)

Berita Terkait

Komentar

Komentar