Suara Pancasila Nyaris tak Terdengar

Laporan: Redaksi

Ilustrasi

Ilustrasi

YOGYAKARTA, (Tubas) – Pemahaman terhadap nilai-nilai Pancasila sebagai dasar, ideologi dan falsafah bangsa dewasa ini memang sungguh memprihatinkan. Bangsa ini seakan telah menempatkan atau memandang Pancasila sebagai sesuatu yang tidak urgen lagi untuk dibicarakan. Di kampus-kampus, juga di sekolah-sekolah, perbincangan tentang Pancasila nyaris tak terdengar. Bahkan di sekolah-sekolah, Pancasila sudah diposisikan sebagai bukan mata pelajaran wajib, dan digantikan dengan kewarganegaraan.

Penilaian tersebut dikemukakan sejumlah tokoh dan pengamat di Yogyakarta sehubungan dengan kurangnya kesadaran bersama terhadap nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dewasa ini.

Pengamat politik dari Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Drs Hamdan Daulay, MSi, MA, prihatin adanya kecenderungan melemahkan nilai-nilai Pancasila sebagai ideologi dan falsafah bangsa. Ia pun menyayangkan adanya semacam keengganan untuk berbicara tentang Pancasila di era globalisasi sekarang ini.

“Pemahaman terhadap nilai-nilai Pancasila sekarang sungguh memprihatinkan. Menyedihkan. Pancasila seakan dipandang sebagai sesuatu yang tak menarik lagi untuk dibahas atau diperbincangkan. Bagaimana bisa memahami, kalau membicarakannya saja sudah tidak mau? Ini sungguh menyedihkan. Padahal di era globalisasi ini, Pancasila merupakan benteng dan senjata ampuh dalam membendung atau menangkal gencarnya serbuan budaya serta pemahaman dari luar,” tegas Hamdan Daulay, kandidat doktor ilmu politik pada Universitas Gadjah Mada (UGM) ini kepada Tubas, di Yogyakarta, Jumat (3/6).

Hal senada juga dikemukakan Deddy Suwadi Siregar SH, pengamat dan dosen pada Fakultas Hukum Univeristas Cokroaminoto Yogyakarta (UCY). Menurut Deddy, sebagai ideologi dan falsafah bangsa, Pancasila memiliki nilai-nilai yang luhur dan adiluhung.

“Cobalah simak dan dalami kembali, betapa Pancasila memiliki nilai-nilai yang luhur dalam menata bagaimana seharusnya bangsa yang multikultural ini menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara. Pancasila telah menanamkan nilai-nilai agung kepada bangsa ini tentang bagaimana berperilaku, berbudaya, dan berinteraksi tidak hanya dalam lingkup sesama bangsa, tetapi juga dengan bangsa-bangsa lainnya,” ujar Deddy ketika ditemui tubasmedia.com Jumat (3/6).

Baik Hamdan Daulay maupun Deddy Suwadi Siregar sama-sama berpendapat, salah satu dampak nyata dari kurangnya kesadaran bersama terhadap nilai-nilai Pancasila itu merosotnya budi pekerti, terutama pada sejumlah anak bangsa atau generasi penerus bangsa ini.

“Apa yang terjadi belakangan ini, cukup membuktikan bagaimana kemerosotan budi pekerti itu terjadi. Cobalah lihat, kekerasan demi kekerasan masih saja sering terjadi. Bangsa ini seakan berubah temperamennya menjadi bangsa yang mudah marah dan emosional. Perselisihan atau bahkan perbedaan pendapat tak jarang diselesaikan dengan kekerasan. Budi pekerti bangsa ini berada dalam kondisi yang benar-benar berbahaya,” jelas Hamdan Daulay.

Pancasila Diabaikan

Sementara Ketua Majelis Luhur Tamansiswa, Jend (Purn) Tyasno Sudarto, Selasa (31/5) di Yogyakarta menilai adanya upaya mengabaikan nilai Pancasila. Sebagai filosofi, menurutnya, Pancasila seharusnya terjabarkan dalam Undang-Undang Dasar (UUD). Namun, Undang-undang sebagai landasan hukum dan kebijakan di negara ini justru telah mengabaikan nilai-nilai Pancasila.

“Jelas terlihat, saat ini UUD 1945 sudah diamandemen. Sebagai contoh, dalam Pancasila, ekonomi itu harus didasarkan pada kerakyatan. Akan tetapi, sekarang justru dilepaskan kepada pasar. Di sini, Pancasila sudah dihilangkan,” ujar Tyasno Sudarto dalam diskusi Pancasila; Antara Ada dan Tiada yang digelar Jogja Editors Forum.

Menurut Tyasno, kondisi bangsa kini sedang dipertaruhkan di kancah global. Karena landasan dan karakter bangsa sudah diabaikan sendiri oleh pemimpin negeri ini. “Harus ada langkah yang berkesinambungan untuk menanamkan nilai filosofis dan ideologis Pancasila. Membudayakan dan mensosialisasikan Pancasila itu jangan hanya retorika saja,” tandasnya. (s eka ardhana)

Topik :

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.