Sudah “Ketagihan” dengan Pencitraan

Oleh: Fauzi Aziz

ilustrasi

ilustrasi

REZIM penguasa di manapun selalu membutuhkan pencitraan agar rakyat yang menjadi pendukungnya saat memenangkan pemilu terus memercayainya. Wajar hal itu terjadi. Tetapi, kalau menjadi ketagihan dan ketumanan, maka dampaknya menjadi tidak baik.

Pemimpin dari rezim yang berkuasa lama-lama bisa menjadi tidak percaya diri ketika akan mengambil keputusan penting yang bersifat strategis. Secara sadar atau tidak akan dapat menimbulkan kegamangan takut kalau “citranya” runtuh.

Seperti perjaka tua, makin tua dan makin matang kedewasaannya makin takut untuk nikah. Padahal syarat-syarat untuk menikah sudah terpenuhi. Akhirnya “kasep”, semua kesempatan baik menjadi hilang, dan lagi-lagi citranya menjadi luntur, yakni pria ganteng, tapi tidak punya nyali untuk menikah. Citranya sebagai pria ganteng menjadi tidak memiliki makna apa-apa kecuali berubah menjadi pria ganteng yang rela menjadi duda kasep. Negatif bukan?

Mudah-mudahan tidak terjebak “perselingkuhan”. Perfeksionis adalah kepribadian yang cenderung sulit untuk diubah, meskipun Renald Kashali sering menyebut bahwa DNA manusia pada dasarnya bisa diubah. Hati-hati, tidak grusa grusu dan mantap sebelum mengambil keputusan penting perlu agar apa yang akan dilakukannya pada saat palu diketukkan tidak menimbulkan masalah yang berarti.

Manusia tidak ada yang sempurna. Citra memang kita butuhkan, tetapi jangan menjadi ketagihan atau ketumanan (dalam bahasa Jawa). Citra yang baik dan original adalah terlahir karena kredibilitasnya baik. Dan menjadi baik dan bernilai positif bagi dirinya manakala citra itu datang dengan sendirinya, karena sang leader berhasil menghasilkan karya-karya terbaik yang bermanfaat bagi kehidupan rakyatnya.

Hati-hati, penuh perhitungan, dan tidak grusa grusu tidak selamanya baik, ketika akhirnya semua momen penting lewat begitu saja. Akhirnya lupa bahwa apa yang sedang dilakukannya ibarat sedang melakukan semacam “masturbasi politik”, mencari kepuasaan sendiri secara politis demi pencitraan. Sementara itu, semua pihak dibiarkan menunggu tanpa ada kepastian kapan sebuah keputusan penting akan keluar.

Teka-teki ini yang sekarang terjadi ketika sudah dua tahun lebih pemerintah menunda terus kenaikan harga BBM bersubsidi. Kompas 1 Mei 2013, menyebut presiden tidak menggunakan wewenangnya untuk menaikkan harga BBM bersubsidi. Kelihatannya gamang dan gamang dan semua kalkulator yang paling canggih sudah digunakan untuk membuat perhitungan.

Analisis politik, social, dan ekonomi sudah masuk dalam proses analisis kebijakan yang melelahkan. Rapatnya bertubi-tubi dilakukan. Sebagian besar masyarakat sudah setuju harga BBM saatnya harus naik.Tahu-tahu ketika semua selesai yang muncul adalah bahwa akan segera dinaikkan setelah pembahasan APBN-P 2013 selesai dengan DPR. Everything is ok, kalau maunya begitu. Yang pasti semua harga sudah keburu naik, dan saat nanti harga BBM bersubsidi dinaikkan, berapa pun harga barunya ditetapkan, akan terjadi kenaikan harga lagi karena ongkos pengangkutan pasti akan naik. Sehingga terjadi double inflation.

Termakan Inflasi

UMP menjadi senjata buruh saat memperingati May Day, 1 Mei 2013.Tekanan mereka agar tidak ada penangguhan pemberlakuan UMP menjadi makin kuat dan wajar tuntutan mereka itu, karena daya beli riilnya turun termakan inflasi yang bersifat ganda. Rakyat sebenarnya sudah cukup sabar menunggu dan rasanya jauh lebih arif dan bijaksana ketimbang perilaku para komandannya tentang rencana naiknya harga BBM bersubsidi. Rakyat sudah siap dan paham bahwa dengan menggunakan kalkulatornya sendiri yang 10 digit sudah menemukan jawaban bahwa memang harga BBM bersubsidi pantas dinaikkan.

Yo wis-lah, kok menjadi seperti ini cara kerjanya. Sudah didukung tetap saja tidak yakin dan tidak percaya diri untuk segera menaikkan harga BBM bersubsidi. Ketagihan dengan pencitraan memang sudah benar terjadi, tapi ada akibat buruk yang harus dipikul oleh kita semua, yakni ketidakpastian dengan akibat lebih lanjut terjadi penimbunan, harga-harga naik dan hampir pasti akan terjadi kenaikan lagi saat harga BBM bersubsidi diumumkan.

Man hour-nya entah berapa banyak sudah terpakai, menguap begitu saja, termasuk biaya yang harus dipikul. Pertamina pasti sudah banyak berkorban dari segi biaya untuk merancang, membuat simulasi biaya yang harus dikeluarkan untuk mendukung rencana pemerintah saat membuat berbagai skenario tentang kenaikan harga BBM bersubsidi, sekitar dua tahun lalu. Ada baiknya demi transparansi dan akuntabilitas, Pertamina sebaiknya bersedia mengumumkan berapa ongkos yang telah dikeluarkan, yang ujungnya tidak ada manfaatnya. ***

Humbanghas
Humbanghas

Berita Terkait

Komentar

Komentar