Sudah Siapkah Memasuki Usia Tua

Oleh: Sabar Hutasoit

 

TERNYATA semua ada masanya. Tidak selamanya roda berada di atas dan juga tak selamanya di bawah. Roda itu berputar sesuai waktunya, kadang di bawah kadang di atas.

Kehidupan manusia juga demikian. Yang jelas, ada saatnya lahir, menjadi dewasa kemudian berkeluarga dan seterusnya beranak pinak, punya anak cucu dan akhirnya meninggal.

Semua orang tahu dan paham akan hal tersebut, namun tidak semua orang paham atau tak semua orang melihatnya sesuatu yang penting untuk mempersiapkan diri menyongsong hari tua.

Hampir semua menganggap waktu tersebut akan tetap sama dan tidak akan ada perubahan, apalagi bagi mereka yang ekonominya sudah mapan. Mereka menganggap waktu akan bisa diatur sesuai dengan keinginan, mereka tidak sadar jika waktu dan semuanya itu ada pemiliknya yang menentukan kapan lahirnya, kapan nikahnya dan kapan dia akan meninggalkan dunia fana ini.

Sikap sedemikian rupa, sebenarnya bukan hanya dimiliki oleh mereka yang berkantong tebal seperti disebut di atas. Sekali lagi bukan! Tapi juga dimiliki rakyat dari strata seluruh lapisan masyarakat apalagi yang menduduki jabatan tinggi di pemerintah atau swasta.

Mereka menganggap dunia ini dengan segala isinya bisa diatur sesuai kehendaknya. Jabatan bisa diatur, duitnya yang berlimpah juga bisa setir dengan juga ilmu yang dikuasai.

Ternyata penafsiran atau keinginan serta kerakusannya ada pemiliknya. Walau secara administrasi seluruh harta itu adalah milik kita, akan tetapi secara de facto, pemiliknya adalah Tuhan semesta alam.

Pemilik Mutlak

Saya bisa mengklaim kalau perusahaan raksasa anu, adalah milik saya. Yes, itu benar dan tak salah. Tetapi pemilik mutlaknya adalah Tuhan yang sering kita lupakan.

Nah, fakta ini sering sekalilah kita rasakan saat kita memasuki hari tua, memasuki masa pensiun dan sebagainya. Di sinilah kita sadar kalau

penafsirah yang pertama jauh dari kebenaran, tapi penafsiran itu sering karena didorong oleh rasa rakus.

Usia sudah tua, tenaga juga sudah mulai habis, sahabat satu per satu mulai menjauh, jalanpun sudah harus dituntun sementara persiapan untuk menghadapi fakta ini sama sekali tidak ada. Maka, mulailah kita sadar bahwa benar semua ada waktu dan seisi dunia ini pemiliknya adalah Tuhan.

Hampir seluruh umat manusia, saat jaya-jayanya tidak mempersiapkan hidupnya untuk memasuki usia tua. “Ach sudahlah harta kita banyak dan jabatan di pemerintahan lumayan tinggi, lalu untuk apa mikirin masa depan. Kita sendiri nanti bisa mengaturnya,” kira-kira demikian isi pemikiran dari hampir seluruh anak manusia.

Nah, pas memasuki usia pensiun, badan sudah tua renta, barulah dia puyeng karena harta dan jabatan ternyata tidak bisa mengatur alur kehidupannya. Bahkan sebaliknya, kehidupan hari tuanya yang kosong itulah yang menentukan hidupnya.

Melihat fakta ini seringlah kita saksikan seorang tua renta kebingungan mau melakukan apa dia di hari tuanya. Aktivitas apapun tak bisa lagi dilakoni karena semuanya sudah terbatas.

Untuk itu tidak salah, dan wajib hukumnya bagi seluruh manusia agar dimasa muda sudah mempersiapkan segalan sesuatu untuk hari tua. Jangan sampai menyesal setelah usia tua, bingung tidak ada satu langkahpun yang disiapkan untuk mengisi hari tua. (penulis seorang wartawan tinggal di Jakarta).

 

 

Berita Terkait

Komentar

Komentar