Sumber Energi Alternatif Diperlukan dalam Peningkatan Daya Saing Industri

images

JAKARTA, (tubasmedia.com) – Direktur Jenderal Industri Kimia, Tekstil dan Aneka (IKTA) Kementerian Perindustrian Harjanto menyampaikan bahwa salah satu isu utama di sektor industri adalam pemenuhan energi bagi industri dalam negeri, terutama mengenai suplai dan rasionalisasi harga energi. Apalagi saat ini sumber energi semakin terbatas ketika industri masih mengandalkan energi yang bersumber dari fosil.

“Oleh karena itu, perlu dilakukan studi lebih lanjut untuk mengimplementasikan sumber energi alternatif yang dapat dimanfaatkan oleh sektor industri,” kata Dirjen IKTA dalam sambutannya pada International Symposium On Application of Nuclear Technology to Support National Sustainable Development di Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga (UKSW), Senin (26/10).

Disampaikan Harjanto, salah satu usulan dari Kementerian Perindustrian adalah penggunaan Pembangkit Listrik Tenaga Thorium (PLTT) yang efisien dan ramah lingkungan. Lebih lanjut, Dirjen IKTA menyebutkan bahwa pemenuhan energi dan bahan baku merupakan amanat dari UU No. 3 tahun 2014 tentang Perindustrian dan Peraturan Pemerintah No. 14 tahun 2015 tentang Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional Tahun 2015-2035.

Sebagai penggerak utama pertumbuhan ekonomi nasional, sektor industri harus didukung agar mengalami peningkatan daya saing. Berdasarkan laporan Global Competitiveness Report 2014-2015, daya saing Indonesia baru mencapai posisi ke-34, masih di bawah negara ASEAN lainnya, seperti Thailand (peringkat 31), Malaysia (peringkat 20) dan Singapura (peringkat 2). Untuk itu, lanjut Harjanto, struktur industri perlu dikuatkan dan perlu dibangun iklim usaha yang mendukung untuk meningkatkan daya saing industri nasional.

Selain kendala pemenuhan kebutuhan energi dan bahan baku, tantangan lain yang dihadapi dalam upaya peningkatan daya saing industri di antaranya adalah infrastruktur yang kurang memadai sehingga menyebabkan tingginya biaya logistik serta situasi ekonomi global yang sedang tidak kondusif saat ini sehingga mempengaruhi upaya dalam menjaga stabilitas dan memperbaiki iklim usaha.

Dirjen IKTA mengharapkan dalam simposium ini dapat diformulasikan proposal yang bisa disinkronisasi dengan kebijakan pengembangan industri nasional yang sudah ada untuk mengarah pada industri nasional yang kuat. Simposium internasional tersebut dihadiri oleh anggota Dewan Pertimbangan Presiden Sidarto Danusubroto, Kepala Badan Tenaga Atom Nasional Djarot Sulistio Wisnubroto, Bupati Salatiga, Rektor UKSW John A. Titaley dan Staf Ahli Bidang Relevansi dan Produktivitas Kemenristek dan Dikti Agus Puji Prasetyono. (sabar)

Berita Terkait

Komentar

Komentar