Tahun 2020, Indonesia Lepas dari Ketergantungan Baja Impor

doddy-jpg2

JAKARTA, (tubasmedia.com) – Kebutuhan baja nasional 12 juta per tahun sementara kapasitas produksi industri baja di dalam negeri masih sekitar 6,5 juta ton per tahun. Artinya, Indonesia belum mampu mencukupi kebutuhan industrio pengguna bahan baku baja di dalam negeri.

‘’Kekurangannya masih harus kita impor. Sekarang seluruh industri baja di dalam negeri sudah on going,’’kata Direktur Industri Logam, Kementerian Perindustrian, Doddy Rahadi kepada wartawan di kantornya kemarin.

Namun ditegaskan, dalam waktu tidak lama lagi, kebutuhan baja nasional akan sepenuhnya disuplai oleh industri baja Indonesia.

‘’Pasalnya, industri baja secara nasional dari hulu ke hilir sudah terintegrasi,’’ lanjutnya.

Disebut misalnya baja untuk kebutuhan body kendaraan bermotor roda empat, pabriknya sudah ada di Cikarang yang kapasitas produksinya mencapai 400.000 ton per tahun. Ini artinya, pelaku industri body kendaraan bermotor roda empat tidak akan kesulitan lagi mencari baja.

Begitu juga Krakatau Nippon Sumitomo, yang pada awal 2017 sudah akan mulai berproduksi dengan kapasitas 480.000 ton per tahun ditambah lagi Krakatau Posco yang kapasitasnya 3 juta ton per tahun dan mereka berencana akan segera menambah investasi lagi pada tahap kedua.

‘’Karena itu sesuai rencana, kapasitas produksi baja Indonesia pada tahun 2020, akan menacapai 19 juta ton,’’ jelas Doddy menambahkan, dengan angka produksi ini, kebutuhan baja nasional otomatis sudah akan terpenuhi dan Indonesia sudah dapat melepaskan diri dari ketergantungan baja impor.

Selama ini Indonesia mengimpor baja dari Jepang sekitar 8 juta ton per tahun dan dari China 5 juta ton setiap tahun. Industri baja China yang kapasitas produksinya mencapai 800 juta ton per tahun, keberadaannya sudah sangat kompetitif dan sulit menandinginya demikian juga Jepang kapasitas produksinya 100 juta ton per tahun.

Di bagian lain penjelasannya, Doddy mengatakan, laju pergerakan industri baja di dalam negeri akan lebih cepat lagi jika didukung oleh harga gas yang kompetitif. ‘’Saya yakin, jika harga gas turun, kapasitas produksi baja nasional akan naik lagi,’’ tegasnya. (sabar)

 

 

 

 

 

Berita Terkait

Komentar

Komentar