“Taman Bunga” yang Kurang Terawat

Oleh: Fauzi Aziz

HATI kita berbunga-bunga ketika berada di taman bunga. Tentunya saat semua bunga mekar dari kuncupnya dengan warna-warni yang sangat menawan. Sejuk, damai dan menyenangkan memandangnya. Hati tak bergejolak dan tak stres.

Paling tidak ada dua penyebab kenapa taman bunga tersebut menjadi menarik perhatian kita, yakni karena terawat dan sekaligus dimandori oleh petugas kebun yang sangat kompeten.

Kalau bangsa ini dapat kita ibaratkan sebuah taman bunga raksasa, ketika ia dirawat dengan baik dan penuh kasih sayang, serta terpimpin dengan penuh kebijaksanaan, Indonesia benar-benar menjadi zona damai dan makmur sedunia.

Betapa tidak? Karena manusia sangat merindukan suasana seperti taman bunga yang terawat. Bak nirwana dunia yang memberi harapan hidup sehat jasmani dan rohani yang hadir secara seimbang, selaras dan serasi.

Kita bisa membayangkan jika tidak dirawat dan mandor kebunnya ogah-ogahan, maka taman bunga akan acak-acakan, tanamannya rusak dan bunganya tak pernah mengembang. Pada akhirnya tidak ada yang mau berkunjung lagi karena daya tariknya sirna.

Yang ada hanya ular-ular kecil dan besar bersembunyi di semak-semak menunggu mangsa yang dapat ia caplok kemudian membelitnya. Bangsa ini bisa seperti itu jika tidak terawat dan terkelola, terpimpin dengan baik.

Keberagaman yang selalu dibanggakan berubah menjadi persemaian konflik. Dan kita harus jujur dan sadar bahwa potensi terjadinya konflik sangat terbuka dengan situasi akhir-akhir ini.

Jadi sejatinya mengurus negeri ini mudah saja. Dirawat dan dipimpin dengan sebaik-baiknya, seperti halnya taman bunga. Kerusakan dan juga kegagalan sebagian besar disebabkan karena salah urus. Salah urus ini berarti bisa dikatakan sebagai salah perencanaan, pengorganisian, pengeksekusian dan salah dalam pengawasan.

Karena itu perlu kompetensi supaya tidak salah urus. Kalau dirawat dan diurus secara inkompeten, pasti berantakan. Jika Indonesia berhasil menciptakan dirinya sebagai zona damai, disaat bersamaan bisa menjadi zona makmur.

Zona damai adalah suatu lingkungan paling kondusif dan konstruktif untuk pembangunan peradaban. Zona damai menjadi lahan yang subur bagi siapa saja mengembangkan investasinya karena ada jaminan keamanan dan kenyamanan berinvestasi di negeri ini.

Zona damai yang terkapitalisasi secara sosial ekonomi dan budaya akan mengantarkan bangsa ini menjadi zona makmur. Syaratnya adalah seperti tadi, tidak salah urus dan kompeten dalam mengurusnya, dalam arti terawat dan terpimpin dengan baik.

Negeri ini peminatnya terlalu banyak karena letaknya strategis dan memiliki sumber daya ekonomi berlimpah. Wajar bila diproyeksikan menjadi kekuatan ekonomi baru di dunia dalam dua dekade mendatang.

Zona damai adalah modalitas utama dan pertama untuk bertransformasi menjadi zona makmur. Indonesia adalah zona subur sehingga diposisikan sebagai the big country sumber kekayaan biodivercity di dunia.

Inilah mengapa dunia selalu menawarkan kerjasama ekonomi dan budaya dengan Indonesia. Dan jika kita baca secara konstruktif dan positif, kemakmuran Indonesia sudah di depan mata. Hanya perlu menciptakan zona damai tanpa ada konflik atau berpotensi terjadi konflik karena salah urus.
Indonesia sudah merdeka penuh. Sudah berdaulat penuh, telah berdemokrasi, juga sudah ikut berglobalisasi dan telah menjalankan ekonomi digital. Sebab itu, semua kenikmatan tersebut harus dirawat karena jika sampai menimbulkan konflik, negeri ini bisa menjadi negara gagal (field state) akibat salah urus.

Last but not least. Kesempatan untuk berdamai selalu terbuka luas. Begitu pula untuk menjadikan Indonesia menjadi zona makmur, ruangnya masih cukup tersedia asalkan kita mampu, kompeten dan tidak salah urus.

Dan kita pasti setuju dengan premis itu karena kita mendambakan negeri ini bak sebuah taman bunga raksasa yang selalu menarik perhatian. Catatan kritikalnya adalah jangan sampai Indonesia di-cloning oleh “pe nguasa bayangan” di dunia yang hanya ingin mengkapitalisasi aset bangsa untuk kepentingan kapitalis birokrat yang rajin melakukan casino capitalism di pasar finansial dan pasar modal di Indonesia.

Jika itu yang terjadi, kita hanya dapat cangkang-cangkangnya saja, dan tak lagi menikmati taman bunga yang indah, bak surgawi dunia akibat lingkungan sosial dan lingkungan hidup kita rusak parah, tanpa ada yang bertanggung jawab.

Taman bunga raksasa hanya berlalu tanpa petilasan akibat tak terawat, dan terkelola dengan baik sesuai azas kepatutan dan kepatuhan. Taman bunga raksasa itu, akhirnya hanya menjadi belukar karena diurus secara pragmatis dan tak bertanggungjawab. (penulis adalah pemerhati masalah sosial ekonomi).

 

Berita Terkait

Komentar

Komentar