Tanaman Ghat, Tumbuh Subur di Puncak, Bogor

Laporan: Redaksi

Ilustrasi

Ilustrasi

BOGOR, (TubasMedia.Com) – Pohon daun Ghat, kini menjadi tenar seiring dengan ditangkapnya artis Raffi Achmad Cs oleh Badan Narkotika Nasional (BNN). Hasil uji laboratorium BNN, jenis narkoba yang dikonsumsi Raffi Achmad Cs terbuat dari bahan daun Ghat.

Hasil penelusuran tubasmedia.com di sejumlah tempat, pohon daun Ghat ternyata tumbuh subur di kawasan Puncak, Kecamatan Cisarua Kabupaten Bogor, tepatnya di Desa Tugu Utara. Pohon Ghat banyak ditanami di pekarangan pemilik rumah dan pemilik vila.

Masyarakat memanfaatkan pohon tersebut sebagai pagar halaman rumah. Mardi warga Desa Tugu Utara mengungkapkan pohon Ghat ini terkadang dibeli oleh turis Arab. “Daun yang dibeli diambil bagian pucuknya .Tidak ada harga yang pasti dalam transaksi. Kami dikasih berapa saja mulai dari Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu. bahkan mereka bisa memetik sendiri,” jelas warga.

Menurut warga, turis Arab itu merasakan manfaat daun tersebut untuk menurunkan kolestrol serta menurunkan darah tinggi. Biasanya daun Ghat dicari orang Arab saat musim liburan di puncak. Jadi tidak jelas pemasarannya dan cara menanamnya juga mudah, cukup di stek dan ditancap ke tanah.

Jenis pohon Ghat yang hidup di kawasan Puncak ada dua jenis yakni Ghat berwarna hijau dan Ghat berwarna merah. Tanaman mirip Ghat atau Khat Chatineno yang tumbuh subur di kawasan Puncak belum bisa dipastikan apakah tanaman itu benar benar bahan pembuat narkotika jenis Chatinone atau bukan. Tapi yang pasti dari hasil laboratorium BNN disimpulkan bahwa Chatinone sendiri digolongkan sebagai narkotika golongan I yang hanya boleh dipakai untuk keperluan riset.

Belakangan semenjak Raffi Achmad Cs ditangkap saat tengah melakukan pesta Narkoba bersama belasan orang lainnya zat ini disebut disalahgunakan pihak tertentu. Di kawasan Puncak tanaman ini tumbuh di wilayah Kecamatan Cisarua.

Menurut warga tanaman tersebut awalnya dibawa turis asal Timur Tengah (Yaman) sekitar tahun 2005. “Awalnya tanaman ini dibawa turis dari Yaman dikosumsi usai makan daging kambing sebagai lalapan untuk menurunkan lemak dan kolestrol serta obat diabetes,” ujar Mumuh (40) warga Desa Tugu Utara.beberapa waktu lalu.

Menurutnya, lantaran memiliki nilai ekonomi dia menanam tanaman tersebut di kebun miliknya seluas 6 x 11 meter di belakang rumahnya, usaha ini diikuti oleh beberapa warga lain.

“Biasanya ada yang suka beli setiap bungkusnya dijual Rp 100 ribu dan yang dikonsumsi itu pucuknya,” katanya.

Paska terbitnya larangan Polisi dan BNN agar warga tidak menanam Ghat (Chatinone yang mengandung zat adiktif golongan I) sejumlah pemilik tanaman di kawasan Puncak kini memusnahkan jenis pohon yang tumbuh subur itu.

Usman pemilik pohon Ghat di lahan 500 meter persegi di Puncak Sumbul, Desa Tugu Selatan, sebelum aparat datang ke lokasi, ia terlebih dulu memusnahkan pohon tersebut. Hingga saat anggota Polsek Cisarua mendatangi lokasi, polisi hanya menemukan lahan kosong. ”Para pemilik tanaman Ghat di Pasir Sumbul sudah memusnahkan tanaman tersebut,” kata Angga Juhara, anggota Polsek Cisarua. Di beberapa lokasi lainnya di Puncak, Polisi melakukan pemasangan garis polisi di lokasi sejumlah ladang Ghat sejak Rabu lalu.

Polisi menggunakan proses non justicial, karena keberadaan tanaman itu baru pertamakali ditemukan maka pemiliknya tidak diberi sanksi. Namun jika nantinya ada yang terbukti sengaja menanam, polisi akan menjerat sesuai UU No.35 tahun 2009 tentang Narkotika.

Ia menambahkan setelah beredar berita dan datangnya beberapa anggota BNN pada sabtu lalu untuk mengambil beberapa pohon dan memberikan penyuluhan bahwa tanaman itu termasuk golongan yang dilarang dirinya mengaku sudah memusnahkan tanamannya.

“Ya kami juga takut mas, makanya kami musnahkan soalnya kami tidak tahu kalau tanaman ini dilarang.” ujarnya.

Di lain kesempatan Humas BNN Pusat Kombes Sumirat Dwiyanto saat dikonfirmasi mengatakan, jajarannya telah menerjunkan tim di lapangan untuk mengambil sample tanaman untuk dilakukan uji laboratorium untuk memastikan tanaman tersebut Ghat atau bukan. “Sample telah diambil dan polisi memastikan tanaman itu mengandung Chatinone,” kata Sumirat.

Sementara itu Kapolsek Cisarua Kompol H Hadi Santoso membenarkan kedatangan BNN telah mengambil sample tanaman itu untuk diperiksa di Laboratorium. Menurut sumber, lahan yang dijadikan warga untuk area menanam tanaman tersebut di kawasan Puncak mencapai 2,5 hektar tersebar di seluruh wilayah Cisarua. (syamsul)

Berita Terkait

Komentar

Komentar