Tantangan dan Peluang Inovasi Produk di Era Industri 4.0

JAKARTA, (tubasmedia.com) – Pada era Revolusi Industri 4.0 penggunaan teknologi tinggi akan mempermudah target produksi tercapai, baik waktu produksi yang singkat, maupun kualitas produk dan berkelanjutan.

Sementara itu, konsumen industri-pun menuntut produk premium dengan waktu produksi yang singkat karena penggunaan teknologi juga akan memperluas inovasi produk dan efisiensi produksi.

Hal itu diucapkan Peneliti Utama Badan Pengkajian Penerapan Teknologi (BPPT), Dr Ir Sudirman Habibie, MSc. kepada wartawan di Jakarta kemarin.

‘’Apabila Indonesia sebagai produsen tekstil tidak ikut serta, maka berisiko mendapatkan dampak negatif dari revolusi industri 4.0. Seperti kalah bersaing dalam inovasi produk hingga kehilangan pasar,’’ lanjutnya.

Berbicara tentang nilai pada industri 4.0, dikatakan, perangkat manufacturing dikarakterisasi dengan aplikasi peralatan mesin dan robot yang sangat otomatis. Robot akan bekerja secara kolaboratif dengan pekerja manusia dalam tugas bersama. Pekerjaan di manufacturing sebagian besar diotomasisasikan secara masif  jumlah pekerja akan berkurang

‘’Karenanya pekerjaan manufakting yang tersisa adalah pekerjaan yang perlu knowledge banyak serta tugas-tugas jangka pendek dan sulit untuk direncanakan,’’ tambahnya.

Teknologi manufaktur tambahan yang dikenal sebagai 3D printing, menurutnya akan semakin digunakan dalam proses penciptaan nilai.

Di bagian lain penjelasannya disebut, tahun 2019 jumlah usia produktif di Indonesia  mencapai 67% dari total penduduk di Indonesia. Sekitar 45% dari 67% usia produktif tersebut berusia 15-34 tahun.

Bonus Demografi

Di tahun 2030 Indonesia juga akan memasuki masa bonus demografi dimana populasi usia produktif diperkirakan akan bertambah sebanyak 30 juta orang sehingga kebutuhan lapangan kerja semakin besar.

Dikaakan oleh Sudirman bahwa industri terbesar di Indonesia masih makanan dan minuman yang menyumbang hampir sepertiga dari output manufaktur negara itu tahun lalu.

Ini diikuti oleh kontribusi 11% dari produk-produk terkait minyak bumi, sekitar 9% masing-masing berasal dari industri otomotif, kimia dan elektronik, sedangkan industri tekstil dan pakaian jadi menyumbang 6% dari total output.

Untuk itu katanya, hasil pemetaan industri manufaktur pemerintah Indonesia telah memutuskan untuk fokus pada lima industri utama, yang

dipilih berdasarkan dua kriteria, pertama kelayakan implementasi, berkenaan dengan kondisi, infrastruktur dalam industri, serta kesiapan produsen untuk mengadopsi teknologi baru.

Kriteria kedua didasarkan pada dampak yang diproyeksikan ditentukan oleh  kontribusi terhadap pertumbuhan PDB yang akan diterapkan oleh reformasi industri 4.0.

Hal lain yang penting mendapatkan perhatian pemerintah katanya adalah kurangnya tenaga kerja terampil dikombinasikan dengan produktivitas yang rendah menyebabkan Indonesia kehilangan daya saing. Sektor manufaktur didominasi oleh SMS lokal dengan adopsi teknologi terbatas.

‘’Pendanaan pemerintah kemungkinan akan terus tidak mencukupi untuk memenuhi meningkatnya kebutuhan untuk berinvestasi dalam teknologi dan infrastruktur baru. Sementara itu, fasilitas pemrosesan bahan baku domestik yang kurang berkembang, menghasilkan ketergantungan yang tinggi pada bahan baku impor,’’ jelasnya. (sabar)

 

 

Berita Terkait

Komentar

Komentar