Tarian Tor-Tor Warnai Pembentukan Kosentra di TMII

Laporan : Audy

Tarian Tor-Tor

Tarian Tor-Tor

JAKARTA, (Tubas) – Anjungan Daerah Provinsi Sumatera Utara (Sumut) Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Minggu (20/3) diwarnai nuansa komunitas etnis Batak. Tarian khas tor-tor bersama tebaran ulos diiringi musik tradisional (gondang) berjingkrak bak dance reggae menghentakkan kaki (marombas) menjadi tontonan meriah di kalangan pengunjung yang berasal dari berbagai etnis.

Saweran uang sebagai ungkapan kebersamaan sosial pun berlangsung secara spontan. Puluhan ribu hingga ratusan ribu rupiah diselipkan pada jepitan jemari masing-masing panortor (para penari). Watak keterbukaan dalam bingkai-bingkai kekerabatan tampak nyata mengikis habis feodalisme di kalangan komunitas etnis Batak tersaji dalam suasana. Namun begitu terdengar seruan “Horas… horas… horas…” tarian tortor pun berakhir dengan sendirinya.

Suasana kegembiraan itu mewarnai peresmian terbentuknya Komunitas Seniman Tradisi (Kosentra) Sumut yang berkantor di Anjungan Daerah Provinsi Sumut TMII. Kelahiran wadah Kosentra itu diresmikan oleh Kepala Perwakilan Provinsi Sumut yang juga Direktur Operasional TMII, Ade F. Meliala.

Menurut Ketua Umum Kosentra Ir Joyce Sitompul Manik, dibentuknya Kosentra merupakan panggilan hati para seniman asal Sumut untuk melestarikan budaya leluhur. Kosentra ini sebagai wadah untuk menghimpun para seniman asal Sumut meliputi delapan puak yakni Batak Toba, Batak Simalungun, Batak Karo, Batak Mandailing, Batak Angkola, Melayu Deli, Tapanuli Tengah dan Nias. ***

Berita Terkait

Komentar

Komentar