Tembok-Tembok Penghambat Pertumbuhan tidak akan Bisa Dirobohkan

images.jpgaaaaaaaaaaaaaaa

Oleh: Fauzi Aziz

EKONOMI dunia sedang mencoba bangkit dari keterpurukannya. Tetapi ketika tanda-tanda pemulihan akan bangkit, tiba- tiba datang pengumuman  dari IMF atau Bank Dunia atau dari lembaga pemeringkat yang kredibel, bahwa pertumbuhan ekonomi dunia harus dikoreksi.

Terakhir kalau tidak salah berada pada kisaran 2,4%. Perkembangan baru terjadi bahwa hasil referendum di Inggris telah me menyatakan negara tersebut keluar dari Uni Eropa. Situasi ini diperkirakan dapat mempengaruhi per kembangan politik dan ekonomi di Eropa maupun dunia.

Nilai mata uang poundsterling jatuh ke titik terendah setelah 30 tahun terakhir. Dampak dari Brexit, Wapres JK memperkirakan akan meningkatkan proteksi di Eropa. Dan Gubernur BI dalam sisi yang berbeda memperkirakan akan terjadi pelarian dolar AS kembali ke negaranya.

Bila ini terjadi, maka boleh jadi pertumbuhan ekonomi dunia dan khususnya Indonesia akan terkoreksi yang tahun ini diperkirakan tumbuh di kisaran 5%. Apa yang dapat kita cermati pada pertumbuhan ekonomi dewasa ini yang serba teka-teki. Tidak ada kepastian dan inilah yang dinamakan dengan kepastian itu sendiri.

Sebelum era globalisasi dan perdagangan bebas menikmati masa-masa kejayaan, tembok-tembok penghalang pertumbuhan adalah “proteksionisme”. Tembok- tembok tersebut sejatinya tidak pernah roboh karena mampu bermetaporposa ke dalam bentuknya yang lain, yakni menggunakan instrumen standar dan isu lingkungan.

Faktanya harga sebuah pertumbuhan ekonomi pada dewasa ini harus dibayar mahal. Salah satunya, negara-negara di dunia dipaksa mengikuti arus perdagangan bebas. Apa lacur, sistem tersebut tak mampu menjadi penopang pertumbuhan, terbukti banyak negara  berkembang tak mampu menjadi pemenang, kecuali Tiongkok.

Sekarang-pun, negeri tirai  bambu tersebut pertumbuhan eknominya terkoreksi. Ekonomi Tiongkok mengalami kontraksi  sehingga pertumbuhannya anjlok menjadi sekitar 6-7%, yang sebelumya pernah mencapai 9-10% pada awal kebangkitannya.

Di dunia ini memang tidak ada yang abadi. Perubahan dan dinamika selalu terjadi. Geraknya tidak beraturan dan tidak bisa diprediksi. Kadang naik dan dalam sekejab bisa turun dan bahkan bisa menukik tajam karena akhirnya terjadi krisis ekonomi yang bersifat regional maupun global.

Kita menjadi penasaran apakah tembok-tembok pembatas pertumbuhan tersebut sejatinya berbentuk apa. Seperti apa sosoknya dan apakah memang ada. Semua negara terus membicarakan tentang pentingnya kebebasan. Tapi semua negara dengan gema yang sama mengedepankan tema-tema tentang kepentingan nasional maupun isu-isu tentang perlindungan.

Semua mau tumbuh dan semua mau sehat dan semua pengen perlindungan tetap diperlukan karena dalam situasi dan kondisi tertentu kinerja ekonomi tidak selamanya baik dan kuat. Kalau dilihat dari fenomena seperti itu, tembok-tembok pembatas pertumbuhan itu sejatinya memang diperlukan.

Teori ekonomi sendiri telah mengajarkan kalau ekonomi overheating maka harus didinginkan dan bila males bangkit harus dipompa agar ada kesempatan kerja dan perbaikan daya beli masyarakat. Secara alamiah ekonomi bisa tumbuh dan sehat.

Pada saat yang berbeda bisa tidak mengalami pertumbuhan dan bisa jadi sakit sehingga proses pertumbuhannya menjadi terhambat. Ekspektasi memang suka kebablasan. Perdagangan bebas dikatakan menjadi mesin pertumbuhan, tetapi kenyataannya ekonomi dunia mengalami pelambatan.

Jadi kesimpulan yang dapat ditarik bahwa kegiatan ekonomi tidak bisa terus menerus dipacu harus tumbuh dengan kecepatan tinggi karena secara alamiah bisa saja tidak tumbuh karena berbagai situasi.

Para ekonom selalu menyebut bahwa begitulah siklus bisnis atau siklus ekonomi berlangsung. Perdagangan bebas ternyata bukan obat mujarab pertumbuhan.Yang logis dan berdasarkan nalar sehat adalah kegiatan perdagangan harus berjalan secara alamiah karena instrumen perdagangan merupakan bagian kegiatan ekonomi yang tunduk pada hukum pasar.

Tembok-tembok penghambat pertumbuhan tidak akan pernah bisa dirobohkan, baik bersifat permanen maupun situasional. Dan ini menjadi kebutuhan semua negara, baik negara maju, maupun negara berkembang.

Pertumbuhan dan perlindungan adalah sebuah keniscayaan, yang dalam ekonomi keduanya diperlukan. Bentuknya apa serahkan saja kepada negara masing-masing karena sampai kapanpun perlindungan adalah soal azasi dan diperlukan oleh setiap negara di dunia.

Yang pasti perdagangan internasio nal akan berjalan secara alamiah karena memang diperlukan sebagai salah satu alat kerjasama ekonomi antar  negara. Yang pasti tidak akan ada yang berani melakukan isolasi kecuali sebatas perlindungan terhadap kegiatan ekonomi domestiknya karena memang diperlukan.

Selain itu, semua negara di dunia tidak ada yang bebas dari masalah ekonomi. Kita pikir tadinya yang punya problem hutang hanya negara berkembang. Ternyata negara maju nilai hutangnya jauh lebih besar dan mereka kini terjebak oleh problem hutang dan krisis 2008 terjadi karena krisis hutang Eropa dan AS.

IMF menganjurkan prudent policy dalam pengelolaan moneter dan fiskal. Tetapi negara maju yang justru melanggar kaidah tersebut sehingga mereka rata-rata melanggar batas maksimum 60% terhadap GDP atas hutang mereka.

Nampaknya era pertumbuhan ekonomi tinggi sudah  berlalu. Di negara emerging economy Asia rata-rata tumbuh antara 6-7% sudah sangat bagus. Di kawasan Uni Eropa dan AS di kisaran 3-4% rata-rata per tahun, juga sudah bagus, meskipun tidak mudah mencapainya.

Ini semua terjadi karena hampir semua negara di dunia memiliki tugas yang tidak ringan.

Tembok-tembok penghambat pertumbuhan itu terjadi karena ulah semua negara di dunia karena setiap pertumbuhan ekonomi ada sejumlah biaya yang harus dibayar.

Celakanya biaya yang harus dikorbankan membengkak dan cenderung. tak terkendali. Stiglitz pernah menyampaikan bahwa kita dapat memperoleh perhitungan  kasar atas manfaat pengurangan penggundulan hutang per tahun, katakan rata-rata 20%. Pada harga 30 dolar AS tiap ton karbon, nilai tahunan dari menghindari penggundulan hutan-hutan dari peningkatan karbon di atmosfer yang akan terjadi sebagai hasil langsung pemotongan pohon-pohon itu antara 30 hingga 40 miliar dolar AS setiap tahun.

Selanjutnya dikatakan tahun 2005 negara-negara berkembang menghasilkan 40% dari emisi gas-gas rumah kaca dan tahun 2025, dengan proyeksi yang sekarang dilakukan, negara-negara berkembang akan mengeluarkan lebih banyak gas rumah kaca dibandingkan dengan negara maju.

Ini berarti biaya yang akan dipikul pasti akan bertambah. Inilah tembok-tembok pembatas pertumbuhan ekonomi yang paling hakiki menjadi ancaman pelambatan ekonomi. Masalah paling besar adalah hutang, kerusakan lingkungan, tata kelola yang buruk dan korupsi.(penulis adalah pemerhati masalah sosial ekonomi dan industri).

Berita Terkait

Komentar

Komentar