Tergiur Dinikahkan 72 Bidadari Jadilah Teroris

Laporan: Redaksi

Ilustrasi

Ilustrasi

JAKARTA, (Tubas) – Muhammad Maulana alias Sani, Johanda, Febri Hernawan, Watono alias Anton, Mugianto, Ade Guntur, dan Darto, merupakan 7 dari 17 pelaku bom buku di Jakarta dan Serpong. Sasaran yang dibidik di antaranya kantor BNN Jl MT Haryono, Jaktim, rumah Ketua Pemuda Pancasila Yapto Suryosumarno, studio milik musisi Ahmad Dhani di Pondok Indah, Jaksel. Ketujuh tersangka teroris itu mulai sidangkan di Pengadilan Negeri Jakarta Barat (PN Jakbar) Senin (31/10) oleh ketua majelis hakim Mirdien SH.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Ricky Tommy dalam dakwaannya mengungkapkan, para pelaku mengaku didoktrin dalam pengajaran di pengajian yang dipimpin oleh Pepi Fernando. Doktrinnya bahwa mereka yang mati syahid akan diampuni dosanya sejak tetesan darah pertama, akan dinikahkan dengan 72 bidadari, akan dihindarkan dari azab kubur dan akan ditenangkan pada hari Hisab.

Menurut JPU, Juhanda mulai mengenal pemahaman ke Islaman lebih dalam sejak mengikuti pengajian bulanan oleh seorang pria bernama Ciptono di rumah Watono terdakwa teroris lainnya. Kemudian papa pada 19 Desember 2008, Juhanda mulai mengenal pemimpin kelompok bom buku bernama Pepi Fernando saat bersama Watono di Pondok Kelapa, Jakarta Timur. Dari Pepi itulah, Juanda belajar mengenai jihad. Juanda termasuk yang membantu Pepi dalam perakitan bom. Kemudian Juhanda direkrut karena Pepi membutuhkan karyawan untuk pembuatan jam Hijriah.

Para anggota pengajian pimpinan Pepi di rumahnya perumahan Harapan Indah Bekasi, Jawa Barat dan juga diadakan di rumah Darto, anggotanya mulai didoktrin bahwa jihad hukumnya fadhu ain atau wajib bagi setiap Muslim dengan menggunakan senjata api dan bom. Mereka juga dijejali materi tentang I’dad, yakni mempersiapkan harta dan jiwa untuk menggetarkan musuh, termasuk persiapan senjata api dan bom. (audy)

Berita Terkait

Komentar

Komentar