Terhitung Juni 2017, Seluruh Ponsel 4G Wajib Dirakit di Indonesia

rodji4

JAKARTA, (tubasmedia.com) – Seluruh ponsel yang sudah berimigrasi ke teknologi 4G, terhitung Juni 2017, sudah harus atau wajib dirakit di Indonesia. Tujuannya agar pertumbuhan investasi semakin membaik, penerapan tenaga kerja semakin meluas dan penumbuhan industri-pun semakin menggembirakan serta jumlah pembayar pajak juga semakin bertambah.

Hal itu dikatakan Direktur Industri Elektronika dan Telematika, Kementerian Perindustrian,  Achmad Rodji kepada wartawan kemarin di ruang kerjanya.

Menurutnya, ponsel berteknologi 4G yang beredar di Indonesia seluruhnya berjumlah 27 merek dan para pebisnis di sektor satu ini, secara otomatis pula akan membangun industri perakitan di Indonesia.

Dan dengan bertumbuhnya industri perakitan di dalam negeri, Rodji menjelaskan bahwa industri tersebut sudah pasti membutuhkan tenaga kerja sebagai perakit yang jumlahnya tidak sedikit. ‘’Ini saja sudah bisa mengurangi pengangguran,” katanya.

Selain itu, industri perakitan ini juga akan menggunakan komponen lokal yang sekaligus mendukung program pemerintah dalam peningkatan penggunaan produk-produk dalam negeri.

Tentang persentase tingkat kandungan dalam negeri (TKDN), Rodji mengatakan khusus untuk industri ponsel,  sampai tahun 2017 diperkirakan meningkat hingga mencapai 30 persen. ‘’Sebuah angka yang menggembirakan,’’katanya menambahkan angka tersebut akan terus digenjot.

Sektor lain yang persentase TKDN-nya akan meningkat adalah industri pembangkit listrik tenaga surya, industri fiber optic yang digunakan membangun palapa ring di bawah laut dan juga di darat.

‘’Jika program ini semuanya sudah terwujud, cukup banyak tenaga kerja yang dapat diserap,’’tambahnya.

Ditanya mengenai langkah pemerintah mengurangi ponsel impor, Rodji mengatakan tiga menteri masing-masing Menteri Perindustrian, Menteri Perdagangan dan Menteri Komunikasi dan Informatika telah bersinergi untuk mengurangi lajunya ponsel impor masuk ke Indonesia.

Bahkan sebaliknya, menurut Rodji, produk elektronik dan telematika asal Indonesia dijajaki untuk bisa masuk ke pasar Arika sehingga diharapkan bisa mendongkrak nilai ekspor produk tersebut ke pasar itu yang pada tahun lalu mencapai US$31,4 juta. (sabar)

 

Berita Terkait