Terigu Turki Ganggu Industri Nasional

Laporan: Sabar Hutasoit

Terigu

JAKARTA, (Tubas) – Pengusaha industri terigu nasional mendesak pemerintah agar tetap konsisten memberi perlindungan kepada pengusaha nasional. Kalau tidak, nasib pengusaha dalam negeri akan menjadi tidak jelas menyusul masuknya tepung terigu asal Turki yang harganya jauh di bawah harga gandum sebagai bahan baku industri tepung terigu.

Hal itu terungkap dalam jumpa pers yang diselenggarakan Ketua Umum Asosiasi Produsen Tepung Terigu Indonesia (Aptindo), Franky Welirang dan Direktur Eksekutif Aptindo Ratna Sari Loppies di Jakarta pekan silam.

Menurut Franky dan Ratna, perlindungan pemerintah untuk industri dalam negeri dari unfair competition yang diatur WTO yaitu belum dikenakannya BMAD (bea masuk anti dumping) atas terigu Turki hasil penyelidikan KADI belum dirasakan.

’’Apalagi sampai saat ini terigu Turki masih terus membanjiri pasar domestik kita dengan harga di bawah harga gandum sebagai bahan bakunya,’’ tegas Franky menjelaskan harga terigu nasional rata-rata Rp. 117.700 hingga Rp 156.200/sak isi 25kg (Incl PPN) sementara harga terigu Turki di pasar domestik Indonesia Rp 106.000 hingga Rp 113.000/sak isi 25kg (incl PPN) atau Rp. 4.200-4.400/kg.

Disebutkan, penerapan BM selama sebulan terakhir dipastikan akan memicu kenaikan harga terigu. Namun ia tidak bisa menyebutkan berapa kenaikan harga yang akan terjadi akibat pengenaan bea masuk.

“Persoalan yang harus diperhatikan kalau impor gandum dikenai bea masuk, maka harga terigu pasti naik. Jika ini dicabut harga terigu akan turun lagi. Tetapi harga produk turunan terigu seperti biskuit, mi dan lainnya tidak mungkin turun lagi,” ujarnya.

Pada saat yang sama pemerintah enggan menetapkan bea masuk anti dumping untuk terigu Turki yang volumenya mencapai 50 persen dari total impor terigu dan cukup mengganggu industri lokal.

Disebutkan bahwa tanggal 22 Desember 2010 pemerintah mengeluarkan peraturan menteri keuangan (PMK) nomor 241 yang mengatur bea masuk impor untuk bahan baku dan barang modal di sektor pertanian, perikanan, industri manufaktur dan lain-lain. Bea masuk yang ditetapkan untuk setiap produk bervariasi antara 5-40 persen. Produk gandum dikenai bea masuk lima persen. ***

Berita Terkait

Komentar

Komentar