Terminal Energi Bojonegara untuk Antisipasi Defisit Gas

lng

JAKARTA, (tubasmedia.com) – Terminal energi terpadu berbasis liquefied natural gas (LNG) akan segera dibangun PT Pertamina dan PT Bumi Sarana Migas (BSM) di Kecamatan Bojonegara, Kabupaten Serang, Provinsi Banten.

Pemilihan lokasi terminal atau kompleks LNG itu didasarkan pada pertimbangan, antara lain, mengantisipasi defisit gas dan wilayah Jawa Barat sebagai pasar besar.

Kerja sama Pertamina dan BSM, dari Kalla Group, yang ditandatangani   tahun lalu, murni bisnis. Pertamina melihat kerja sama ini sesuai strategi bisnis perusahaan. Maka, Head of Agreement (HoA) ditandatangani, 13 April 2015, sebagai tindak lanjut dari Memorandum of Understanding (MoU) yang disepakati 12 April 2014.

HoA ditandatangani oleh Direktur Energi Baru dan Terbarukan Pertamina, Yenni Andayani dan Solihin Kalla selaku direksi PT BSM, disaksikan Direktur Utama Pertamina Dwi Soetjipto. Kronologi proses kerja sama dituangkan dalam “Ringkasan Analisis” Pertamina yang dijelaskan kepada wartawan, baru-baru ini.

Sementara itu, Juru Bicara PT BSM, Nanda Sinaga, Senin (14/11), mengatakan,  BSM mulai mempersiapkan diri untuk membangun proyek Bojonegara. Terminal ini akan dibangun dengan kapasitas 500 MMscfd atau setara lebih dari empat juta ton.

Megaproyek ini ditaksir membutuhkan dana investasi hingga Rp 10 triliun, yang akan diperoleh dari para pemegang saham serta pinjaman dari lembaga keuangan di Jepang.

Pembangunan terminal energi ini didasarkan pada pertimbangan, pertama, upaya memenuhi kebutuhan gas di Jawa Barat sesuai dengan strategi bisnis perusahaan. Pertimbangannya, terdapat peluang pasar yang besar seiring dengan defisit neraca gas menurut data Pertamina dan Kementerian ESDM. Pertumbuhan kebutuhan gas menyebabkan peningkatan  defisit gas di seluruh Indonesia, dan yang terbesar di Jawa bagian Barat.

Kemudian, adanya jaminan ketersediaan pasokan LNG serta identifikasi potensi pelanggan. Dalam analisis yang dilakukan sejak awal 2010, disimpulkan, diperlukan terminal penerimaan dan regasifikasi LNG di darat serta infrastruktur pipa untuk memenuhi kebutuhan pasar yang besar.

Kedua, dibutuhkann mitra yang pemilihannya sesuai tata kelola perusahaan. Untuk menggarap proyek terminal LNG diperlukan kapabilitas aset, pendanaan, dan teknologi dari pihak ketiga. Terkait itu, BSM (bersama Tokyo Gas Engineering  & Mitsui &Co. Ltd) mengajukan skema JV yang dapat melengkapi kapabilitas yang diperlukan Pertamina. Proses evaluasi calon mitra ini sesuai standar Pertamina.

Sebelumnya, Pertamina telah mempunyai portofolio LNG yang mencapai 7 MTPA pada 2024 guna mengamankan pasokan gas Indonesia jangka panjang termasuk untuk kelistrikan. Pertamina juga telah memprioritaskan pengembangan fasilitas regasifikasi darat yang dimulai pada 2015.

Lebih Ekonomis

Mengenai pertimbangan pemilihan infrastruktur regasifikasi darat di Jawa Bagian Barat, disebutkan, ditinjau dari sisi permintaan pasar, fasilitas regasifikasi darat merupakan opsi paling menarik dibandingan dengan float storage regasification unit (FSRU), karena kapasitas produksi besar, dapat diperluas, dan lebih ekonomis untuk kapasitas besar. Mengenai lokasi, Bojonegara dinilai paling cocok. Saat beroperasi, fasilitas regasifikasi darat dapat menggantikan fasilitas lainnya.

Terkait dengan itu, jaringan pipa transmisi dan distribusi  perlu dibangun untuk menyalurkan hasil regasifikasi kepada pembeli di Jawa Barat.

Disebutkan, BSM, yang memiliki lahan di Bojonegara dan akan dibangun sebagai terminal regasifikasi LNG, pada akhir tahun 2013 menawarkan kepada Pertamina untuk memanfaatkan terminal tersebut. Selain itu,  Konsorsium BSM – TGE – Mitsui memberikan tawaran yang dapat memenuhi kapabilitas yang diperlukan Pertamina dan hal ini merupakan model bisnis yang umum diterapkan secara global.

Pada tahap berikutnya, Pertamina melakukan proses evaluasi mitra sesuai dengan tata kelola perusahaan. Inti kronologis proses pengukuhan kerja sama Proyek Terminal Regasifikasi, pertama, BSM menginisiasi kemitraan  dengan Pertamina  untuk pengembangan terminal regasifikasi darat berdasarkan pandangan mereka akan kebutuhan gas di Jawa Barat. Kedua, proposal BSM sesuai dengan strategi jangka panjang Pertamina akan infrastruktur gas dan target untuk memenuhi  permintaan LNG di Jawa Barat. Ketiga, proses kemitraan proyek sesuai dengan STK Pengembangan dan Kerja Sama Bisnis 2004 dan Proposal STK Kerja sama 2014. Keempat, proses seleksi mitra tidak diperlukan karena kemitraan diajukan oleh mitra – perlu dilakukan evaluasi mitra sesuai kriteria.

Sejak Awal Dijelaskan  

Nantinya, terminal energi Bojonegara akan terdiri atas terminal penerima LNG dan regasifikasi, kilang minyak baru, dan pembangkit listrik tenaga gas uap (PLTGU) berkapasitas 1.000 hingga 2.000 mw. Proyek ini diharapkan beroperasi pada 2020. Terminal penerima LNG diharapkan bisa beroperasi  terlebih dahulu. Pada tahap pertama, kapasitas terminal LNG akan sebesar 500 MMSCFD dan diperbesar menjadi 1.000 MMSCFD pada tahap kedua.

Sejak digagas dan kemudian disepakati kerja sama dengan PT BSM, kalangan pejabat Pertamina sudah memberikan penjelasan mengenai proses kerja sama dan peluang komersial. Di antaranya, Vice President LNG Pertamina, Didik Sasongko Widi, Jumat (7/10/2016), mengemukakan, pada awalnya perseroan hanya ingin membangun terminal penerima LNG. Belakangan, pembangunan kompleks dipertimbangkan mengingat permintaan energi akan muncul dari Jawa Bagian barat.

Berdasarkan data Pertamina, tahun lalu, Jawa Barat mengalami defisit gas sebesar 315 MMSCFD dan angka ini diproyeksikan meningkat tiga kali lipat menjadi 962 MMSCFD pada 2025. Ketika itu (2015), secara nasional Indonesia diprediksi defisit gas  1.013 MMSCFD dan akan meningkat menjadi 3.206 MMSCFD pada  2025

Proyek Bojonegara adalah satu dari beberapa infrastruktur LNG yang akan dibangun Pertamina dalam jangka menengah. Perusahaan ini akan membangun fasilitas serupa di Ambon dan offshore Cilacap, serta beberapa mini LNG plant di Papua Barat dan Kalimantan Timur. Pertamina bertekad menyiapkan infrastruktur karena mulai 2020 Indonesia  mengalami defisit gas. Terkait dengan itu, infrastruktur disiapkan untuk menampung LNG impor, yang diperkirakan 3 juta ton per tahun mulai 2020.

Sebelumnya, Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Wianda Pusponegoro menegaskan, proyek Bojonegara murni business to business. Pertamina sebagai off taker (pembeli) dari PT BSM. Pertamina diposisikan sebagai 100 persen off taker LNG yang akan disalurkan Pertamina ke PLN.  (end)

 

Berita Terkait

Komentar

Komentar