Tidak Memiliki Siswa, Enam SD di Pematang Siantar Ditutup

Laporan: Redaksi

ilustrasi

ilustrasi

PEMATANG SIANTAR, (TubasMedia.Com) – Dinas Pendidikan Kota Pematang Siantar menutup atau meregrouping sebanyak enam sekolah dasar (SD) karena tidak memiliki siswa sesuai standart nasional yang mengharuskan. Standar nasional menentukan bahwa setiap SD harus memiliki minimal 32 orang siswa.

Hal ini dikatakan Kepala Bidang Pendidikan Dasar (Kabid Dikdas), Jonson Tampubolon, Minggu (20/10). “Maka dari itu, sepanjang Tahun 2011 hingga Tahun 2013 ada enam SD Negeri di Kota Siantar yang kita tutup,”kata Jonson.

Ia menyatakan regrouping dilakukan untuk menghemat anggaran di Dinas Pendidikan seperti Bantuan Operasional Sekolah (BOS), menghemat sarana dan prasarana seluruh sekolah serta menghemat banyaknya kepala sekolah.

Saat ini, kata Jhonson, terdapat 118 SD Negeri dari 124 SD yang ada di Kota Siantar. “Untuk yang swasta ada 36 SD di Siantar,”ujarnya. Ia mengaku alasan Dinas Pendidikan melakukan penutupan 6 SD di Kota Siantar dikarenakan jumlah siswanya yang sedikit dan tidak sesuai dengan standart nasional. “Ke enam SD yang kita tutup siswanya dibawah 32 orang,”katanya.

Ia mengaku, pihaknya melakukan penutupan 6 SD tersebut selain jumlah siswanya tidak mencapai 32 orang, penutupan itu dilakukan karena di satu komplek terdapat 3 sampai 4 sekolah. “Sedangkan untuk sekolah yang berada di daerah terpencil tidak dilakukan penutupan mengingat jarak tempuh yang harus dilalui para siswa apabila sekolah ditutup,”ujarnya.

Disinggung yang menjadi penyebab sedikitnya jumlah siswa yang masuk ke SD Negeri, Jonson mengaku belum mengetahuinya namun pria bertubuh gemuk itu meyakini kemungkinan besar program Keluarga Berencana (KB) yang digalakkan pemerintah telah berhasil. Selain itu, kata Jonson, pembangunan sekolah pada zaman dahulu menumpuk pada satu tempat.

“Contohnya dalam satu komplek, terdapat beberapa sekolah di dalamnya. Mungkin dulu untuk sekolah Negeri masih banyak diminati, tapi saat ini sekolah kan sudah banyak, itu mungkin alasannya,” ujarnya seraya menambahkan bahwa perkembangan sekolah swasta di Siantar tidak berpengaruh kepada SD Negeri.

Pria berambut plontos ini juga menerangkan seluruh siswa dari sekolah yang di re-grouping akan dipindahkan ke sekolah tetangga yang memungkinkan untuk diisi siswa baru dan akan dipindahkan ke sekolah yang masih membutuhkan siswa. “Sedangkan untuk guru dan kepala sekolah yang di re-grouping akan menjadi guru kembali di sekolah yang masih memiliki kekurangan tenaga guru,”ujarnya.

“Untuk siswa kita akan masukkan ke sekolah yang ada di sekitaran sekolah yang kita re-grouping yang masih memungkin untuk menambah siswa. Kalau untuk guru akan kita tempatkan di sekolah yang masih mengalami kekurangan guru. Sedangkan kepala sekolahnya akan dijadikan guru dan apabila ada kepala sekolah yang pensiun kita akan tempatkan kepala sekolah dari SD yang dire-grouping itu ke sekolah yang kepala sekolahnya sudah pensiun,”katanya. (mar)

Topik :

Berita Terkait

Komentar

Komentar