Tidak Setuju dengan Kami Silakan Pindah ke Propinsi Lain

Laporan: Redaksi

Ilustrasi

JAKARTA, (TubasMedia.Com) – Posisi wakil gubernur biasanya tidak terlalu banyak berperan dalam mengambil kebijakan. Hal ini juga terjadi dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta saat dijabat pasangan Fauzi Bowo-Prijanto. Kala itu, Prijanto sangat jarang sekali tampil.

Namun, hal ini tidak berlaku bagi pasangan Joko Widodo (Jokowi)-Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Sejak dilantik 15 Oktober lalu, keduanya kerap membuat gebrakan. Nampaknya, Jokowi dan Ahok sudah sepakat untuk membagi peran. Bagaimana pembagian tugas mereka?

“Pak Gubernur kasih saya tugas yang tidak enak. Yang menghadap DPRD saya, menemui demonstran juga saya,” kata Ahok saat menggelar rapat dengan Dinas Pekerjaan Umum DKI Jakarta 8 November lalu yang videonya diunggah di Youtube.

Ahok kembali mendapatkan tugas yang “kurang enak” dari Jokowi. Kali ini, dia diminta untuk memotong anggaran salah satu proyek di Dinas PU sebesar 25 persen. Alasannya, nilai anggaran proyek tersebut terlalu besar dan pemborosan.

“Saya tahu banyak yang mengadu ke Pak Gubernur dan mengeluhkan cara saya ngomong terlalu kasar. Saya mohon maaf kalau bicara saya tidak enak, karena memang ini tugas saya untuk menyampaikan yang tidak enak. Saya terima itu,” tegas Ahok dengan penuh percaya diri.

Bahkan, Ahok tak segan-segan akan mencopot seluruh petinggi di Dinas PU jika tidak sejalan dengan pemikirannya. “Kalau tidak setuju dengan kami, silakan pindah ke provinsi lain,” katanya.

Kritikan Keras

Kritikan keras dan sindiran pedas kerap keluar dari mulut Wagub DKI Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok saat rapat anggaran dengan Dinas-dinas di jajaran Pemprov DKI. Di dalam rapat yang muncul di YouTube ini, Ahok mengaku tak takut sikap kerasnya ini mengundang banyak musuh.

“Memang ada yang lapor Pak Gubernur ada yang sakit hati dengan cara saya ngomong terlalu kasar, ya saya terima. Sampai saya bicara gini ‘kalau ada musuh yang mau bunuh saya, saya paling nggak tahu, karena terlalu banyak’,” katanya dengan ekspresi serius.

Hal ini disampaikan Ahok di dalam rapat anggaran dengan Dinas PU DKI di Gedung Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat Rabu silam.

“Kalau Pak Gubernur ngomongnya kalau mau ikut, ya ikut satu kereta. Itu halus ngomongnya. Kalau tidak, akan kami tinggal. Kalau saya lebih kasar. Saya tidak bisa tiru gaya lah, saya ini orang Sumatera, memang begini ini cara ngomong saya,” lanjut Ahok.

Begitu beraninya sampai Wagub DKI ini yakin tak akan mengedipkan mata jika ada yang akan menembaknya.

“Kalau ada yang tembak saya di depan saya, mata saya nggak akan pernah kedip. Itu kasarnya seperti itu pak,” ujar Ahok. (tim)

Topik :

Berita Terkait

Komentar

Komentar