Tidak Usah Manyun…

Oleh: Fauzi Aziz

Manyun

Ini harapan yang tulus disampaikan agar negeri ini selalu dimuliakan oleh Tuhan. Landasan kerjanya kan sudah jelas yaitu keimananan, percaya kepada Tuhan YME. Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, Musyawarah mufakat dan berkeadilan. Ayo coba bekerja, berkarya dan berprestasi berdasarkan semangat itu.

Rakyat pasti akan senang bilamana para pemimpin dan penguasa di negeri ini dapat memaksimalkan nalar dan qalbunya untuk selalu berbuat yang baik penuh ketulusan dan kejujuran untuk memperbaiki kualitas hidup di negeri ini.

Tanpa anda harus menyebut berulangkali bahwa anda bekerja atas nama rakyat dan demi kepentingan rakyat, rakyat cukup mengerti kok. Maaf ya para pemimpin dan penguasa di negeri yang tercinta, kami tidak perlu terus-terusan harus mendengarkan orasi dan perdebatan yang membosankan.

Yang kami butuhkan sebagai rakyat biasa adalah karya dan prestasi yang kalau diuji apakah melalui poling, jajak pendapat atau metode lain, akan diperoleh jawaban yang jujur bahwa rakyat memang puas dan mendapat manfaat positif dari adanya kepemimpinan yang efektif dari para penguasa di negeri ini.

Tidak usah manyun kalau dikritik dan tidak usah narsis bahwa kepemimpinan di tingkat nasional di negeri ini sudah banyak menghasilkan karya dan prestasi gemilang. Percayalah ukuran yang menjadi parameter paling pas untuk mengukur keberhasilan atau sebaliknya, rakyat sajalah yang menentukan.

Mereka akan jujur mengatakan bahwa memang pemerintah dan wakil rakyat kita hebat. Tak salah kita memilihnya sebagai pemimpin dan sebagai wakil kita, karena memang banyak karya dan prestasi mereka patut diacungi jempol. Hidup kita makin hari makin bertambah baik. Sedulurane makin terasa menghangatkan dan penuh kedamaian.

Semuanya terjadi dan berproses nyaris tanpa basa basi. Tidak usah disuruh pakai money politic segala, malah jadi racun dan tidak ada nilai edukasinya sama sekali. Jadi pemimpin dan wakil rakyat tidak sulit sebenarnya asalkan bisa bekerja dengan baik dan hasilnya dirasakan bermanfaat oleh rakyat.

Jangan diplintir-plintir sendiri, nanti repot mas. Nanti sampeyan malah pusing sendiri kalau ketidakpercayaan rakyat kepada pemimpin dan wakil rakyat mulai terjadi. Apalagi kalau mulai merasakan rakyat hanya diposisikan sebagai obyek, dibodohin melulu dan merasa dikerjain dan “dijadikan korban”, maka reaksinya pasti akan melahirkan gejolak sosial dari yang biasa-biasa saja sampai yang paling ekstrim.

Tapi bisa menjadi sebaliknya yaitu secara spontan kesetiakawanan dan solidaritas sosialnya akan muncul manakala para pemimpin dan wakil rakyat bekerja amanah dan jujur dan karena itu mereka akan menjadi pendukung yang loyal dan bersedia membantu pemerintah melaksanakan kebijakan dan progam-progamnya.

Asal amanah jujur, tidak korup, rakyat pasti bisa menghargai dengan jujur untuk mengapresiasi tugas yang dilaksanakan pemerintah dan wakil rakyat. Oleh sebab itu, kalau para pemimpin, para wakil rakyat selalu mengatakan bahwa apa yang dikerjakannya demi dan atas nama rakyat, maka jangan dengan pongahnya mengeksploitasi rakyat hanya untuk kepentingan sesaat. Meminta pengorbanan rakyat karena lahan milik rakyat harus rela dilepaskan demi memenuhi nafsu serakah para pemodal.

Mengekploitasi kemiskinan rakyat untuk kepentingan politik, kepentingan pribadi atau golongan. Ora elok mas,dadi wong pinter tapi bodo elo-elo koyo kebo. Kelakuane koyo macam luwe semua mau dilumat habis. Sekarang saatnya berubah mumpung matahari masih terbit dari ufuk timur dan tenggelam di ufuk barat.

Pemerintah dan DPR sing rukun le nyambut gawe. Rukun agawe sentoso. Sentoso kanggo urip bebrayanan. Ojo apik-apikan jebule rembukan bagaimana ngutil lan ngrampok harta milik negara. Demokrasi tidak sekadar berbeda. Demokrasi adalah menempatkan rakyat sebagai pemilik kedaulatan.

Presiden lan poro rewange dan para anggota dewan tidak lebih dari orang gajian mas. Mulo ojo dumeh, aji mumpung. Sampeyan sedoyo sing wajib ngawulo dumateng rakyat, ampun sak walike nanti kualat. Ojo podo petakilan merasa sok berkuasa. Salah kuwi mas. Tugase panjenengan sedoyo adalah mulyaake rakyat, mendidik rakyat, berprilaku adil dan menjaga, melindungi rakyat.

Ora njur bancakan, maaf merampok. Pantalone mereka hebat, boss, dll. Sepatune mengkilap, montore sing regane miliaran. Mangane nang hotel mewah. Waktu di kampung paling dia makan sego pecel utowo tiwul. Eh barang dadi penggede lan podo dadi anggota dewan mangane macem-macem kabeh dimplok koyo wong kesurupan. Ayo kabeh saiki luwih becik dadi wong mulyo.

Pemerintah dengan DPR kerja yang baik. Jangan punya perasaan masing-masing yang paling benar, paling pintar dsb. Jangan saling menyandera seperti soal urusan BBM. Bicaralah baik-baik. Jadilah sosok negarawan. Gunakan otak kiri kanan secara seimbang. Gunakan hati ketika akan membuat sebuah keputusan penting yang bisa berdampak luas terhadap kehidupan bermasyarat, berbangsa dan bernegara.

Rukun bukan berarti KKN. Rukun dalam semangat persatuan dan musyawarah mufakat untuk mengatasi berbagai masalah fundamental yang dihadapi oleh bangsa. Berpolitik tidak sekedar hanya untuk menikmati kekuasaan. Tapi berpolitik juga berdimensi untuk menjalankan misi kemanusiaan, membangun keadaban dan peradaban yang berkeadilan.

Semoga harapan ini didengar oleh tuan-tuan calon presiden dan wakil presiden dan tuan-tuan yang berminat menjadi anggota dewan pada tahun 2014 mendatang. Yang pasti kalau kelakuannya tidak berubah, pemegang saham utama di negeri ini yaitu rakyat yang sudah melek politik, melek tentang baik buruk dan sudah tidak doyan lagi racun yang bermerek money politic, maka para pemegang saham akan punya perhitungan sendiri karena mau negaranya gagal. ***

Berita Terkait

Komentar

Komentar