Tiket Elektronik Transjakarta Patut Diapresiasi

Oleh: Anthon P.Sinaga

ilustrasi

ilustrasi

PENGADAAN tiket elektronik untuk semua angkutan bus transjakarta mulai bulan Mei ini, patut diapresiasi. Walaupun saat ini baru tersedia di beberapa koridor, tetapi hal itu sudah terbukti lebih menarik perhatian penumpang untuk menaiki angkutan publik massal itu. Kini tinggal, bagaimana menambah jumlah armada di tiap koridor, agar bisa memenuhi kebutuhan calon penumpang yang sesungguhnya. Sehingga, pengunaan kendaraan pribadi semakin berkurang, karena beralih ke angkutan publik, bus transjakarta.

Sejak beroperasinya bus transjakarta 15 Januari 2004, secara bertahap sudah terasa membantu kelancaran lalu lintas di jalur-jalur tertentu. Namun hingga kini walaupun sudah 11 koridor busway dioperasikan, belum bisa menunjukkan hasil yang signifikan seperti diharapkan. Soalnya, pembangunan jalur khusus (busway) untuk transjakarta yang mengurangi porsi lebar jalan raya bagi kendaraan lain, sempat membuat iri hati dan rasa jengkel pengguna jalan, karena sebagian haknya diambil begitu saja.

Unit Pengelola Bus Transjakarta harus lebih kreatif lagi menciptakan daya tarik agar lebih banyak lagi penumpang naik angkutan publik, sebagaimana maksud semula dari pengadaan bus transjakarta ini oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Yakni, dengan meningkatkan pelayanan yang lebih baik lagi (seperti pengadaan tiket elektronik), semakin menjamin kenyamanan penumpang dari tindak kriminalitas (termasuk kaum wanita dari pelecehan seksual), serta mempersingkat waktu tunggu di halte agar penumpang bisa mengatur waktu yang tepat tiba di tempat tujuan.

Dari data Polda Metro Jaya, tidak kurang dari 12 juta unit kendaraan pribadi menjejali jalan-jalan di Ibukota setiap hari, tidak termasuk kendaraan angkutan umum jenis lama yang jumlahnya lebih dari 10.000 unit. Di antara kendaraan pribadi tersebut, sekitar 8 juta unit atau lebih kendaraan roda dua atau sepeda motor. Padahal, panjang jalan di Jakarta hanya tercatat sekitar 7.650 km dengan pertumbuhan sekitar 0,01 persen tiap tahun. Dapat dibayangkan betapa macetnya jalan-jalan di Jakarta. Di sinilah peranan bus transjakarta diharapkan bisa mengurangi kemacetan itu dengan mengambil alih fungsi kendaraan pribadi itu untuk mengangkut penumpangnya.

Tiket Elektronik

Menurut Kepala Unit Pengelola Transjakarta Busway, Muhammad Akbar, tiket elektronik ditargetkan sudah tersedia di setiap koridor pada bulan Mei ini. Hingga akhir Maret, pelayanan tiket elektronik itu baru tersedia di empat koridor dari 11 koridor bus transjakarta. Yaitu koridor I (Blok M – Kota), koridor III (Harmoni-Kalideres), koridor V (Kampung Melayu-Ancol) dan koridor VII (Kampung Rambutan-Kampung Melayu). Bulan Mei nanti, tiket elektronik akan tersedia di seluruh halte bus transjakarta, sebanyak 227 halte di 11 koridor.

Seperti diketahui, jalur busway yang sudah dibangun Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, yakni koridor 1 Blok M – Kota sepanjang 12,9 km. Koridor 2 Pulo Gadung – Harmoni sepanjang 14 km. Koridor 3 Harmoni – Kalideres sepanjang 19 km. Koridor 4 Pulo Gadung- Dukuh Atas sepanjang 11,5 km. Koridor 5 Kampung Melayu – Ancol sepanjang 13,5 km. Koridor 6 Ragunan – Dukuh Atas sepanjang 13,3 km. Koridor 7 Kampung Rambutan – Kampung Melayu sepanjang 12,3 km dan Koridor 8 Lebak Bulus – Harmoni sepanjang 19 km. Koridor 9 Cililitan – Kota, Koridor 10 Cililitan – Tanjung Priok dan Koridor 11 Pasar Minggu –Pluit.

Setelah semua halte ada alat transaksi elektronik, maka penumpang bus transjakarta yang menggunakan tiket elektronik, tidak perlu lagi mendatangi loket untuk membeli karcis. Penumpang cukup menempelkan kartu debit yang dikeluarkan oleh lima bank yang bekerja sama dengan pihak pengelola bus transjakarta, yakni BCA, Bank Mandiri, BRI, BNI dan Bank DKI, ke alat transaksi elektronik, dan saldo di kartu itu akan langsung berkurang. Sesudah itu, pintu tripod secara otomatis terbuka, sehingga penumpang dapat masuk ke area halte untuk menunggu bus.

Menurut Akbar, jika seluruh halte sudah dilengkapi alat tersebut, pihaknya akan menempuh kebijakan tidak ada lagi transaksi tunai seperti selama ini. Semuanya harus menggunakan tiket elektronik. Petugas loket tetap disediakan, tetapi hanya menyediakan jasa isi ulang saldo tiket elektronik tersebut, tentu termasuk juga melayani orang asing, turis, atau orang luar kota Jakarta yang ingin menikmati atau memanfaatkan bus transjakarta untuk perjalanan singkatnya. ***

Humbanghas
Humbanghas
Topik :

Berita Terkait

Komentar

Komentar