Time is Money, Benarkah Itu?

Oleh: Fauzi Aziz

Ilustrasi

Ilustrasi

WAKTU adalah uang. Ungkapan ini sudah lama kita kenal. Namun jika diperdebatkan apakah ungkapan ini cocok dan baik untuk menstimulasi kehidupan di dunia, pasti banyak yang pro namun tidak sedikit yang kontra.

Opini ini akan mencoba berposisi pada pihak yang tidak setuju dengan ungkapan time is money, meskipun dalam hidup ini kita jujur memerlukan uang sebagai alat pembayaran maupun keperluan yang lain. Time is money berarti tiada waktu tanpa uang. Uang berarti dapat dianggap sebagai “dewa” kehidupan.

Meskipun belum ada penelitian yang dilakukan, namun dalam kehidupan sehari-hari dapat dijumpai bahwa gara-gara uang, seseoang bisa mencuri. Karena pingin berjudi dan ingin punya uang banyak dari hasil judi, seseorang rela menjual sepeda anaknya, atau berhutang kepada temannya.

Karena uang pula, seseoang bisa merampok harta orang lain dan merampok uang negara dengan cara korupsi, menipu dan cara-cara lain. Time is money akhirnya menjadi ungkapan yang sangat provokatif dan menimbulkan ekses negatif dalam kehidupan. Globalisasi ekonomi dan liberalisasi ekonomi yang terjadi di dunia dewasa ini telah berdampak antara lain bekembangnya ekonomi uang yang maha dahsyat.

Uang di zaman globalisasi telah beralih fungsi tidak hanya sebagai alat pembayaran dan untuk menabung dan berinvestasi saja, tapi sudah menjadi komoditas dan alat spekulasi. Suatu hari seseorang bisa pegang uang dalam jumlah miliaran rupiah, tetapi pada hari yang sama hanya berbeda jam, uang itu bisa berkurang banyak nilainya atau bahkan ludes karena rugi bermain valas di pasar uang.

Uang hasil bisnis narkoba, judi dan hasil korupsi bisa disimpan di bank Swiss atau di negara lain sebagai upaya pencucian uang hasil kejahatan. Perkembangan masif yang terjadi dalam ekonomi finansial seperti itu, maka setiap hari perputaran uang di dunia bisa mencapai ribuan triliun dolar AS.

Time is money yang tadinya hanya sebuah ungkapan, ternyata dalam kehidupan sehari-hari di seluruh dunia, dia benar-benar telah menjadi “dewa” bagi kehidupan, dengan segala akibatnya, dari yang baik sampai yang berdampak buruk bagi kehidupan.

Uang kelihatannya sudah menjadi tujuan hidup. Tanpa uang sepertinya manusia tidak akan bisa hidup. Untungnya, uang belum ada yang menjadikan pandangan hidup dan juga panduan hidup.

Mudah-mudahan tidak ada yang berniat untuk menjadikan uang sebagai panduan hidup. Waktu adalah uang, mari kita sama-sama renungkan sejenak, tepatkah itu? Atau bagaimana kita ubah saja menjadi “waktu adalah karya, kerja atau prestasi yang bernilai ibadah.

Karya, kerja, prestasi yang bernilai ibadah adalah tujuan hidup kita dan bukan uang tujuannya. Hampir pasti, seseorang yang berhasil berkarya, bekerja dan berprestasi dia akan mendapatkan imbalan uang, baik berupa gaji, tunjangan maupun bonus. Karena cara mendapatkannya halal, toyiban, maka karya, kerja dan prestasi yang dihasilkan menjadi bernilai ibadah. Time is hardwork, not time is money.***

Berita Terkait

Komentar

Komentar