Time Lag Penyebab Transformasi Tertunda

images

Oleh: Fauzi Aziz

DI tengah pertarungan gagasan besar selalu muncul harapan bahwa bagaimana caranya gagasan-gagasan yang berseliweran dalam kertas kerja atau terkompilasi dalam progam digital, landing menjadi sebuah kenyataan yang hidup di tengah masyarakat. Gagasan adalah refleksi nalar yang harus ditransformasikan ke dalam dunia nyata agar terjadi suatu perubahan yang berarti.

Perubahan ini diharapkan menjadi bermanfaat bagi beragam aspek kehidupan, baik dalam jumlah dan kualitasnya. Sayangnya antara harapan dan kenyataan selalu ada time lag yang menyebabkan transformasi yang dikehendaki menjadi tertunda. Celakanya para penunggu hasil proses transformasi suka tidak sabar, sehingga acapkali melakukan tanggung gugat.

Belum lagi caci maki berseliweran sambil berucap ‘’omong doang’’, ‘’hanya pandai berteori’’ dan sebagainya. Time lag  dianggap menjadi biang kerok dan sekaligus “korban” atas terjadinya kelambatan pelaksanan transformasi gagasan ke dalam proyek. Padahal time lag memang tidak bisa dihindari. Lagnya memang bisa sebentar dan bisa juga lama, tergantung banyak faktor penyebabnya.

Dalam situasi demikian, time management menjadi penting. Begitu pula deadline juga menjadi penting agar time lag tidak berlangsung terlalu lama sehingga menimbulkan kekecewaan dan ketidak percayaan dari banyak kalangan publik.

Pemerintah sebagai contoh adalah pihak yang paling sering dikuyo-kuyo oleh publik karena kebijakan dan progam yang dibuat tidak segera mampu melakukan perubahan apa-apa di masyarakat. Maklum masyarakat maunya instan sementara produk kebijakan dan progam pemerintah tidak ada yang bersifat instan.

Baru saja pemerintah melakukan deregulasi ekonomi melalui 12 paket kebijakan ekonomi. Saat ini kebijakan tersebut mulai “digugat” karena tidak berdampak bagi perbaikan kinerja ekonomi yang pada triwulan pertama 2016 hanya tumbuh 4,92% sehingga sudah mulai muncul pendapat bahwa kebijakan tersebut perlu dikoreksi karena belum efektif.

Para pengamat harus bijaksana dalam memberikan catatannya karena mereka tahu bahwa pelaksanaan kebijakan dampaknya tidak ada yang sifatnya instan akibat ada faktor time lag. Inilah teka-teki mengenai time lag. Jika difahami secara emosi bisa mengakibatkan persoalan serius, misalnya pemerintah bisa dituding tidak becus menjalankan tupoksinya.

Menjadi ancaman lebih serius adalah munculnya dis-trust yang bisa berujung macam-macam. Salah satunya adalah tuntutan perlunya perombakan anggota kabinet dan sebagainya. Indonesia banyak sekali mempunyai gagasan besar yang telah dituangkan dalam berbagai rencana, kebijakan dan progam pembangunan, baik yang didanai APBN/APBD maupun yang dilaksanakan swasta dan BUMN/BUMD.

Namun faktanya setelah dieksekusi, manfaat adanya kegiatan suatu proyek tidak segera dapat memberi manfaat karena adanya faktor time lag tadi. Karena begitu kompleksnya masalah pembangunan di negeri ini, maka tidak ada cara lain, kecuali pemerintah harus fokus mengeksekusi rencana, kebijakan dan progam yang sudah dibuat. Berlomba-lomba dalam kebajikan merealisasikan berbagai progam yang sudah ditetapkan. Output-nya dulu yang penting untuk diselesaikan.

Contoh Industrialisasi dan hilirisasi adalah gagasan/rencana/kebijakan/progam. Output-nya terbangunnya pabrik-pabrik baru. Outcome-nya adalah produksi barang dan jasa akan bertambah dan dampaknya adalah pertumbuhan industri akan meningkat. Antara output -outcome-dampak pasti akan terjadi time lag karena ada proses-proses yang harus dilalui.

Tidak heran kalau presiden mencanangkan progam akselerasi pembangunan karena sebagai kepala pemerintahan/kepala negara tidak ingin terjadi time lag yang berkepanjangan. Kekhawatiran presiden hanya satu, yakni jangan lama-lamain merealisasikan rencana/kebijakan/progam karena sesudah dilaksanapun masih akan berhadapan dengan masalah time lag.

Akhirnya masyarakat harus bisa memahami proses pembangunan di negeri ini. Time lag tidak bisa dihindari, bisa pendek dan bisa panjang waktunya. Pengawasan harus efektif. Penggunaan sumber daya harus efisien dan terkelola dengan baik. Dan yang terpenting semua harapan semaksimal mungkin harus menjadi kenyataan, meskipun kenyataan itu tidak bersifat instan karena ada faktor time lag. (penulis adalah pemerhati masalah sosial,ekonomi dan industri).

Berita Terkait

Komentar

Komentar