Tradisi Baru

Oleh: Edi Siswoyo

ilustrasi

ORANG Indonesia pandai menciptakan tradisi. Saking pintarnya, semua bidang di dalam kehidupan masyarakat ada tradisinya. Maka, tidak perlu heran ada banyak tradisi yang hidup, tumbuh dan berkembang di Indonesia. Nilai-nilai di dalam tradisi itulah yang perlu dijaga dan dihormati bersama di dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Sebuah peristiwa langka belum lama ini terjadi. Peristiwa pertemuan antara presiden Susilo Bambang Yudhoyono(SBY) dengan presiden terpilih Joko Widodo (Jokowi) di Bali, Rabu pekan lalu. Kontan saja berbagai kalangan di masyarakat menilai–berharap–pertemuan tersebut sebagai upaya membangun tradisi baru perpolitikan di Indonesia. Mengapa?

Di dalam sejarah perpolitikan Indonesia belum pernah terjadi peralihan kekuasaan yang berjalan secara mulus. Enam kali pergantian presiden selalu diwarnai ketegangan di masyarakat. Maka, pertemuan di dalam masa transisi kekuasaan antara presiden yang sedang berkuasa dengan calon penggantinya menjadi sebuah tradisi baru, sehingga peralihan kuasaan pada 20 Oktober 2014 berlangsung aman dan lancar.

Tepat, pertemuan Presiden SBY dan presiden terpilih Joko Widodo sebagai upaya membangun tradisi baru dalam peralihan kekuasaan di Indonesia. Pertemuan tersebut menjadi langkah awal bangsa Indonesia menciptakan tradisi baru di dalam kehidupan berdemokrasi. Sebetulnya, peristiwa tersebut sebagai hal yang biasa, sebuah bentuk komunikasi politik yang lazim di negara demokrasi.

Nilai-nilai tradisi baru di dalam pertemuan SBY-Jokowi harus kita hormati bersama untuk memutus mata rantai tidak mulus peralihan kekuasaan di masa lalu dan memperlancar komunikasi politik untuk menjawab berbagai tantangan yang menghadang dan menyelesaikan persoalan yang menumpuk di dalam perjalanan bangsa Indonesia.

Tantangan semakin serius. Kemadirian ekonomi yang kedodoran oleh sejumlah komoditas produksi dalam negeri yang masih harus diimpor. Nilai-nilai luhur ideologi Pancasila yang berurat dan berakar pada tradisi bangsa Indonesia semakin memudar. Persoalanya pun semakin mendesak untuk diselesaikan. Misalnya, pengurangan subsidi, kenaikan harga dan kelangkaan bahan bakar minyak (BBM). Terobosan untuk mengatasi korupsi yang sudah merebak di birokrasi dan meluas di masyarakat. Selamat datang tradisi baru! ***

Berita Terkait

Komentar

Komentar