Tumbuh dan Bertahan Sama Sulitnya

Oleh: Fauzi Aziz

 

PERTAMA, ketidakpastian adalah nyata. Pertumbuhan adalah harapan. Bertahan adalah cara kita menghadapi tekanan. Kebijakan publik dan bisnis dan policy dialogue adalah alat yang dapat digunakan untuk merespon ketiga fenomena ekonomi tersebut. Pertumbuhan ekonomi dan bertahan dari tekanan ekonomi menjadi barang mahal karena ongkosnya tidak murah. Stimulus adalah biaya ekonomi yang harus dipikul pemerintah. Padahal di saat yang sama menghimpun pendapatan bukan perkara mudah, sehingga utang menjadi pilihan kebijakan. Dunia dan kita berada dalam situasi itu.

KEDUA, pada triwulan 2-2021 ( y-on-y) ekonomi tumbuh 7,1%. Pada triwulan 3-2021 hanya tumbuh 3,51%. Inilah cermin betapa pertumbuhan dan  bertahan dari tekanan ekonomi sama-sama sulitnya. Triwulan 4-2021 menjadi wait and see karena faktor ketidakpastian. Cuaca ekstrim yang mendunia menjadi salah satu faktor yang dapat berpengaruh terhadap capaian kinerja pada triwulan 4-2021.

Faktor China yang tengah menghadapi tekanan domestiknya menjadi faktor yang mempengaruhi pergerakan perdagangan antar negara. Ekonomi China pada triwulan 3- 2021 hanya tumbuh 4,9% , yang pada triwulan 2 -2021 tumbuh  7,9%. Faktor berikutnya adalah pandemi covid 19 episodenya masih terus berlanjut, dan pemerintah Indonesia sudah warning adanya ancaman gelombang ketiga di awal tahun 2022.

Perkembangan pertumbuhan ekonomi beberapa negara mitra dagang di luar China y-on-y pada kuartal 3-2021 adalah sebagai berikut : AS 4,9%, Singapura 6,5%, Korea Selatan 4,0%, Vietnam (-6, 2%), yang pada triwulan 2-2021 ( y-on-y) tumbuh 6,6%, Hongkong 5,4%, dan UE 3,9%

KETIGA, itulah data BPS yang mengungkap fakta tersebut Postur ekonomi global memberi harapan tumbuh, tapi benteng pertahanan ekonomi domestik harus dijaga dan dilindungi karena siklus bisnis global belum bisa memasuki fase yang sepenuhnya normal karena pandemi covid 19 belum  akan berakhir. Pada triwulan 3-2021, produksi barang dan jasa Indonesia adalah Rp 4.325,4 triliun. PDB sebesar itu disumbang oleh pertumbuhan ekspor 29,16%, Impor 30,11%, PMTB 3,74% , konsumsi LNPRT 2,96%, konsumsi rumah tangga 1,03%, dan  konsumsi pemerintah 0,66%.

KEEMPAT, pertumbuhan menurut lapangan usaha, 66,42% PDB pada triwulan 3-2021 y-on-y berasal dari sumbangan industri, pertanian , perdagangan, konstruksi, dan pertambangan. Namun demikian  angka- angka pertumbuhannya tertinggi adalah jasa kesehatan 14,06% (1), pertambangan 7,78%( 2),infokom 5,51%(3), perdagangan 5,16% (4), pengadaan air 4,56%(5), jasa keuangan 4,29% (6), pengadaan listrik dan gas ( 7), konstruksi 3,84%( 8), industri pengolahan 3,68% (9), real estate 3,42%(10) , dan pertanian 1,31%( 11).

KELIMA, dua situasi itulah yang membuat ekonomi Indonesia pada triwulan 3- 2021 y-on-y tumbuh 3,51%, sektor jasa penting memberikan kontribusi yang cukup baik sesuai dengan sikonnya sehingga geliat siklus bisnis dapat bergerak mengikuti dinamika bisnis pada sektor bersangkutan. Dari sisi pengeluaran patut disyukuri bahwa ekspor barang dan jasa tumbuh 29,16%, tapi impornya melejit lebih tinggi , yaitu 30,11% Ini dapat dimengeri karena ketika PMI manufaktur Indonesia berada pada angka 57,otomatis akan dikuti  oleh pertumbuhan impor bahan baku dan bahan penolong yang sekitar 70% masih diimpor. Konsumsi rumah tangga jelas tumbuh rendah 1,03% karena sebagian dari golongan menengah tengah dan atas tidak royal melakukan membelanjakan uangnya dan lebih memilih menabung.Selama masa pandemi covid 19,jumlah tabungan di perbankan bertambah menjadi Rp 7.000 triliun. Golongan menengah kebawah juga melakukan hal serupa tapi penyebabnya karena daya belinya terbatas sekali. Ketika bansos sudah habis terpakai , maka mereka terjerat pinjol agar bisa survival. Belanja pemerintah hanya tumbuh 0,66% karena sudah digas pol pada pengeluaran triwulan 2 -2021 yang tumbuh 8,06%, dan konsumsi rumah tangga tumbuh 5,93%.PMTB hanya tumbuh 3,74% karena banyak yang masih bersikap wait and see. UUCK yang tengah di Yudisial review di MK membuat investor  bersikap wait and see

KEENAM, not easy but very hard. Pemulihan ekonomi sedang menghadapi pendakian terjal. Optimisme tetap penting, meskipun harus berhadapan dengan kondisi ketidakpastian. Dalam kondisi seperti ini, maka kita harus menghindari keputusan yang bersifat gegabah. Semua negara kini butuh energi baru untuk menata kembali perekonomian yang baru memasuki tahap pemulihan menuju pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. Apapun lanskap ekonomi masa depan yang akan kita wujudkan , semua tergantung dari kebijakan ekonomi pada skala global, regional dan nasional setiap  negara. Semua pemimpin dunia di negaranya masing-:masing hakekatnya adalah para “penjaga pasar” yang bertugas menciptakan stabilitas ekonomi dan pertumbuhan  ekonomi, serta meningkatkan kesejahteraan rakyat. Dan catatan pentingnya adalah bahwa mereka harus dapat menjalankan tugasnya dengan sangat baik apabila selalu memberikan jalan keluar yang terbaik bagi upaya untuk menciptakan stabilitas, pertumbuhan dan kesejahteraan rakyat. Good governance dan clean government adalah mantera terbaik untuk menyelamatkan perekonomian global, regional, dan nasional dari ancaman “kebangkrutan massal” (penulis pemerhati ekonomi dan industri)

Berita Terkait

Komentar

Komentar