Tunas Bangsa Mari Bermimpi

Oleh: Fauzi Azis

Fauzi Azis

Fauzi Azis

HARI ini mungkin kesempatan kita untuk melakukan suatu kerja besar yang dapat mengubah kehidupan masyarakat agar dapat menjadi lebih sejahtera dan makmur agak berat dan penyebabnya yang paling mudah kita kenali adalah spirit dan komitmennya lemah dan fragmentatif untuk membangun kekayaan bangsa.

Membangun sebuah peradaban suatu bangsa membutuhkan sepirit dan komitmen yang kuat dari seluruh pemangku kepentingan untuk membangun kekayaan sebuah bangsa. Hitung-hitungan bukan soal rupiah dan dolar, tapi lebih dari itu, yaitu menyangkut aspek yang lebih luas, misal pendidikan yang akan bisa menghasilkan kecerdasan intelelektual, mental, moralitas dan spiritual.

Humanisme yang mengedepankan nilai-nilai kedamaian, kasih sayang dan saling mau berbagi. Menjunjung tinggi nilai-nilai idialisme yang tidak mudah terjebak pada hitung-hitungan pragmitisme dan transaksional. Ibarat sebuah bangunan, pondasinya harus kokoh dan kuat, karena lingkungan di mana manusia hidup sudah semakin kumuh dan tidak seimbang lagi dilihat dari aspek lingkungan.

Kemulyaan manusia tidak akan bersinggungan dengan soal-soal kemanusiaan saja, tetapi akan berhubungan langsung dengan membangunan kemuliaan terhadap mahluk hidup yang lain, untuk melestarikan lingkungan hidup. Mimpi besar diantara para tunas-tunas bangsa yang harus dibangunkan adalah harus berada dalam koridor semangat tersebut.

Mimpi besarnya antara lain adalah bahwa kesejahteraan dan kemakmuran hanya bisa dibangun kalau kita sendiri yang membangun, bukan oleh bangsa lain. Mimpi besar lainnya adalah untuk membangun dan menjadi bangsa yang berperadaban harus menyandarkan diri pada sumber kekuatan yang sudah kita miliki (alam, manusia dan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknolgi), bukan bersandar pada sumber kekuatan bangsa lain.

Sumber kekuatan dari luar kita pertimbangkan sebatas memang kita butuhkan dan kedudukannya hanya sebagai pelengkap saja bukan yang bisa menentukan. Tunas-tunas bangsa kedepan jangan lagi bermimpi hanya sekedar ingin menjadi pekerja saja. Ini hanya sebuah mimpi kecil-kecilan saja.

Menjadi sebuah bangsa yang berperadaban tinggi tidak bisa hanya bersandar kepada kebergantungannya kepada pihak lain dan puas menjadi orang suruhan dan menjadi orang bayaran karena kedudukan kita hanya sebagai pekerja. Pelipat gandaan nilai tambah sebuah bangsa yang berperadaban tinggi, agung dan mulia di sisi Tuhan, manusia dan alam tidak akan dapat diraih hanya dengan mengandalkan diri kita yang berkedudukan sebagai pekerja.

Menjadi pekerja tidak dilarang, tapi pada sisi yang lain kemerdakaan insani sebagai manusia intelektual yang berkecerdasan dan berketuhanan menjadi terbelenggu. mudah dieksploitasi untuk tujuan-tujuan jangka pendek yang bersifat pragmatis, yang penting du-it bukan do-it.

Mimpi-mimpi besar tunas bangsa yang idial dan harus disemangati adalah jadikan diri kita untuk selalu menjadi insan kamil yang termotivasi disepanjang hidup dan karirnya menjadi insan yang selalu menghasilkan karya dan prestasi besar bagi kepentingan dirinya, keluarga, masyarakat, nusa dan bangsa dengan landasan utamanya membangun kemandirian, bukan kebergantungan yang bisa membawa bangsa ini tidak akan pernah menjadi bangsa kelas wahid dalam peradabannya atau malah akan terjajah terus menerus.

Umur 0-25 adalah usia produktif untuk mengasah kecerdasan intelektual dan sepritual generasi penerus melalui pendidikan yang baik. Model, modul dan pendekatan kesistemannya tidak boleh ceroboh, korup dan asal-asalan. Ini sangat ditekankan karena bersifat fondamental. Umur 25-55 adalah usia dimana seluruh tunas bangsa yang telah lulus dari kawah candradimuka mulai secara efektif mendedikasikan seluruh keahlian yang dikuasainya untuk menghasilkan karya dan presatasi besar di berbagai aspek kehidupan, ekonomi, politik, hukum, kebudayaan dan pertahanan.

Merekalah yang akan mengenginering bangsa ini yang wajahnya telah berubah dari muram durja dan korup menjadi patriot bangsa yang berjiwa patriotik entrepreneur, bermoral, jujur dan menghargai nilai kemanusiaan yang adil dan beradab serta makin bersahabat terhadap alam dan lingkingannya.

Umur 55-65 adalah usia berserah diri dan mengkonsolidasikan diri untuk menjadi manusia paripurna yang mendapatkan kemuliaan di sisi Tuhan, manusia, alam dan lingkungannya. Ambisi politik, ambisi untuk menjadi penguasa lupakanlah semuanya. Ambisi untuk terus mengejar harta dan tahta sebaiknya sudah tidak perlu lagi dilakukan karena godaan pasti akan datang, kalau godaan datang, maka gagallah kita untuk menjadi manusia yang paripurna itu.

Tapi jangan lupa, semuanya tergantung kehendak-Nya, dengan yang ada sekarang, kita tidak bisa berharap banyak untuk melakukan berbagai manuver perubahan yang cepat, tararah dan terukur karena iklim politiknya tidak sehat dan tidak menyehatkan meskipun demokratisasinya sudah dapat dikembangkan oleh bangsa ini, selama 10 tahun lebih.

Kedepannya harus berubah dan berubah dan harus mau berubah. Perubahan ini kita titipkan kepada tunas-tunas bangsa yang saat ini masuk dalam kategori berumur 0-25 tahun yang sedang digodok dalam kawah candradimuka pendidikan.

Begitu masuk dalam kelompok 25-55, maka tanpa bak bik bu, star bersama sama, berlomba dalam kebaikan untuk menghasilkan karya-karya dan prestasi-prestasi besar untuk menjadikan bangsa ini menjadi yang bermartabat dan sukses membangun peradabannya yang baru.***

Topik :

Berita Terkait

Komentar

Komentar