Uang Terus Berputar di Kala Terjadi Resesi Ekonomi Secara Tehnikal

Oleh: Fauzi Aziz

 

PERTAMA, konsep resesi yang kini umum dipakai sebagai rujukan adalah terjadinya penurunan aktivitas ekonomi yang sangat signifikan dan berlangsung selama lebih dari beberapa bulan. Sebuah perekonomian bisa dikatakan resesi jika pertumbuhan ekonominya negatif selama dua kuartal berturut-turut.

Dalam hal yang dihadapi Indonesia saat ini, maka perekonomian negeri ini telah mengalami resesi seperti konsep tersebut karena pertumbuhan ekonominya pada kuartal-2 dan kuartal-3 tahun 2020, mengalami kontraksi menjadi (-5, 32%) dan (-3, 49%).

KEDUA, lepas dari penyebab dan dampaknya, per definisi tersebut, ekonomi Indonesia telah mengalami resesi secara teknikal. Nampaknya resesi kali ini sesuatu yang unik. Dimana letak keunikannya?

Jawabnya, ada penurunan aktifitas ekonomi yang signifikan dan menjadi tumbuh negatif, namun pasar uang dan pasar modal tetap aktif menjalankan peran dan fungsinya. Artinya, modal uang terus berputar. Dan seperti biasa, modal uang ini bebas keluar masuk sehingga volatilitas angka suku bunga, nilai tukar mata uang dan IHSG menjadi pemandangan sehari-hari.

epertinya aktivitas di pasar uang dan pasar modal tidak berkorelasi dengan kondisi di pasar barang dan jasa yang kini lumpuh. Dunia pasar uang dan pasar modal ibarat mahluk di planet lain yang asyik dengan permainannya sendiri, yakni dunia casino capitalism.

KETIGA, jika resesi ekonominya terjadi secara teknikal, maka secara struktural denyut nadi perekonomian tidak berhenti total karena sektor keuangan dan perbankan pada dasarnya masih mampu bekerja seperti biasa karena dunia casino capitilsm bekerja tak kenal musim.

Sektor riil yang sesungguhnya mengalami resesi dengan segala dampak yang ditimbulkan dan secara obyektif hal ini terjadi karena sejak awal, kondisi ekonomi global telah tumbuh lambat dan kemudian dipicu oleh adanya pandemi Covid-19.

Hal lain berarti, resesi teknikal saat ini pada dasarnya adalah resesi cyclical yang tidak bersifat struktural, sehingga dengan tindakan contracyclical yang tepat sasaran, kegiatan ekonomi diharapkan akan rebound dan dapat tumbuh positif pada kuartal yang lain.

Malaysia sebagai contoh telah membuat prediksi bahwa ekonominya bisa tumbuh 7,5% di tahun 2021.Menurut prediksi IMF beberapa bulan yang lalu, ekonomi Indonesia pada tahun 2021 akan tumbuh 6,1% dan berdasarkan prediksi pemerintah sendiri akan tumbuh di sekitar 5%

KEEMPAT, bersyukurlah tidak terjadi krisis keuangan dan perbankan sehingga perannya masih bisa diharapkan mendukung pemulihan ekonomi meskipun tantangannya cukup berat yakni apakah mereka mampu menyediakan layanan pembiayaan dengan suku bunga rendah dan di  lain pihak apakah sektor ini siap menghadapi risiko gagal bayar dari para debitur yang kini menghadapi masalah cash flow yang berat. Bersyukur lagi, investor global masih aktif mau keluar masuk ke pasar uang dan pasar modal karena masih bisa bermain aksi ambil untung. Artinya, aset-aset global yang likuid masih berpihak ke Indonesia agar ekonominya pulih dan selamat dari “kebangkrutan”.

Apapun alasannya, bagi mereka Indonesia adalah salah negara emerging economy yang populasi dan output ekonominya cukup besar dengan jumlah kelas menengah hampir separuh jumlah penduduknya dan mempunyai peran penting dalam rantai pasok global sebagai pengekspor komoditas. Sementara itu, Indonesia juga masih dianggap sebagai satu dari 13 pivotal state di dunia yang pasarnya sedang tumbuh.

Bisnis Kepercayaan

KELIMA, pasar uang dan pasar modal adalah tempat para pelaku pasar menjalankan bisnis kepercayaan. Pemerintah sebagai regulator dan fasilitator memegang amanah untuk bisa menjaga kepercayaan tersebut. Sekali muncul keraguan atas langkah yang diambil pemerintah, maka ada risiko munculnya sentimen negatif terhadap kebijakan dan regulasi yang dibuat oleh pemerintah dan DPR.

Risiko paling buruk  adalah jika sampai menimbulkan goncangan besar di kedua pasar  tesebut dan menimbulkan kepanikan. Orang-orang akan melakukan penarikan dana besar-besaran dari bank, sehingga menimbulkan “pengeringan” likuiditas nasional.

Sebab sejatinya tugas paling berat yang dipikul pemerintah dan elit politik negeri ini dan negeri manapun di dunia, adalah mengelola kepercayaan. Gagal mengurus trust, risikonya bukan hanya sekedar berupa sentimen negatif di bidang ekonomi tapi juga dapat menimbulkan sentimen negatif di bidang politik yang bisa menimbulkan krisis sosial.

KEENAM, dengan keunikan fenomena resesi ekonomi sekarang ini jangan lantas kita bersikap jumawa. Jika pengelolaan kebijakan dan regulasinya baik , maka mudah-mudahan banyak sentimen positif yang dapat dipetik untuk pemulihan kesehatan dan pemulihan ekonomi. Berarti produk kebijakan dan regulasi yang berkualitas baik menjadi tuntutan pasar yang berlaku universal.

Semoga saja resesinya benar-benar cyclical dan tidak berubah menjadi resesi yang bersifat struktural. Pemahaman penulis adalah bahwa resesi yang sifatnya struktural umumnya diawali oleh terjadinya  krisis di sektor keuangan dan perbankan. Hal yang paling mengkhawatirkan bila menimbulkan kepanikan yang diiringi penarikan dana besar-besaran di bank yang akhirnya menimbulkan pengeringan likuiditas nasional.

Jika kondisi ini terjadi, maka situasi buruk yang bisa terjadi adalah nilai tukar mata uang akan jatuh, negara akan menjadi miskin, nilai properti hancur dan sektor industri pengolahan mengalami kebangkrutan masif. Pengalaman paling pahit dialami Indonesia pada krisis likuiditas Asia tahun 1997/1998 yang ketika itu, Indonesia menjadi satu-satunya negara di asia dimana krisis mata uang berubah menjadi krisis keuangan > krisis ekonomi > diakhiri menjadi krisis politik.

Kemudian World Bank pada tahun 1998 mengatakan bahwa Indonesia berada pada krisis yang dalam. Sebuah negara yang menggapai dekade-dekade pertumbuhan pesat, stabilitas dan pengurangan kemiskinan yang masif, saat itu  kondisinya mendekati mengalami kehancuran ekonominya. Ini sejarah kelam dan semua pemangku kepentingan negeri ini harus belajar dari pengalaman pahit tersebut.

KETUJUH, namun apapun situasinya, maka yang tetap muncul sebagai “pemenang” dalam resesi ekonomi sekarang ini adalah sistem kapitalisme global yang menjadi pusat kendali keuangan global. Pusatnya sekarang ini ada di Washington dan di Beijing. Keduanya kini bersaing ketat dan seru. Apa sejatinya yang diperebutkan oleh kedua adidaya tersebut. Tak jauh dari adanya keinginan dari China agar Yuan dapat menjadi mata uang utama dunia yang sekarang ini dimonopoli dolar AS sebagai mata uang utama dunia.

Tidak hanya itu bahwa sebagian besar perdagangan internasional dilakukan dengan menggunakan US dollar dan begitu pula, sebagian besar cadangan devisa disimpan dalam US dollar.

Sumber Konflik

Hal lain lagi, lembaga-lembaga keuangan multilateral didominasi oleh AS dan UE. Ini menjadi sumber konflik paling dikhawatirkan oleh dunia. Karena jika sampai terjadi currency war, ekonomi dunia bisa babak belur. Konflik ini hanya bisa diredam jika mereka berdamai. Siapapun  presiden terpilih AS, rasanya konflik ini akan berlanjut karena berurusan dengan  pengaruh hegemoni di bidang ekonomi.

Kadar pertentangannya mungkin akan berbeda. Sumber ketegangan yang sudah lama berlangsung adalah ketika sektor manufaktur AS mengalami kemunduran.

Sementara itu China muncul sebagai pemasok, kreditur, sekaligus investor dan banker bagi konsumen AS. Kemudian AS mengalami defisit anggaran yang sangat besar karena overstretch, defisit neraca perdagangan dan neraca pembayaran secara berkelanjutan.

KEDELAPAN, berarti pada resesi sekarang ini arus modal uang akan terus mengalir ke negara-negara emerging economy yang butuh penguatan likuiditas dalam bentuk pinjaman/kredit, aliran dana masuk dari investasi  portofolio dan selebihnya berupa FDI.

Satu paket ini yang akan mereka lakukan dan ini jelas big business bagi lembaga-lembaga keuangan multilateral maupun dari negara-negara yang dapat memberikan pinjaman bilateral. Untuk pemulihan kesehatan maupun ekonomi ,Indonesia  masih butuh dana tambahan yang tidak sedikit, dan pinjaman  luar negeri Indonesia hampir dapat dipastikan akan meningkat.

Sebagai kesimpulan untuk sekedar menggugah kesadaran, lantas apa tema besar resesi teknikal yang menimpa Indonesia saat ini. Yang pasti tema-nya bukan krisis keuangan dan perbankan dan bukan pula krisis utang karena tidak terjadi di negeri ini.

Presiden-pun juga hanya menyampaikan bahwa Indonesia telah masuk resesi ekonomi. Yang memang terjadi adalah aktivitas ekonomi menurun signifikan dan tumbuh negatif pada kuartal -1dan 2 tahun ini.

Jadi memang di seluruh dunia yang mengalami resesi, tidak ada judulnya kecuali hanya diberitakan bahwa beberapa negara telah masuk jurang resesi secara teknikal. Makanya penulis menyebutnya sebagai resesi yang unik. Bahkan di pemberitaan dikatakan bahwa ekonomi AS pada kuartal ketiga telah pulih dan tumbuh 31an%? . Apa betul demikian, hanya Donald Trump yang tahu dan The fed.

KESEMBILAN, karena itu, Indonesia tema progamnnya disebut Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) bukan penyelamatan ekonomi nasional karena resesinya lebih bersifat cyclical. Dengan demikian, cenderung dapat dikatakan bahwa karena resesi kali ini lebih bersifat cyclical,  maka intervensi kebijakan dan progam pemulihan ekonomi yang dilakukan oleh pemerintah adalah  tindakan contracyclical yang sebenarnya tidak perlu dilabeli dengan tindakan yang luar biasa.

KESEPULUH, akhirnya kita harus bisa menerima realita bahwa baik untuk pemulihan kesehatan maupun ekonomi sebagian dibiayai dari utang. Seperti kita tahu bahwa utang luar negeri merupakan faktor kritis  dalam pemulihan ekonomi.

Menjadi kritikal karena utang dapat menjadi beban berat bagi negara yang mengakibatkan ratio utang terhadap PDB meningkat dan di lain pihak nilai PDB-nya sendiri mengalami penurunan.

Pada pengelolaan keuangan at company level boleh jadi angka debt equity rationya juga meningkat karena banyak perusahaan butuh tambahan modal untuk menjaga operasi bisnisnya. Dapat ditambahkan bahwa beberapa waktu yang lalu McKinsey menyampaikan bahwa utang publik negeri ini untuk membiayai proyek-proyek infrastruktur, angkanya mencapai 62% dari total  utang yang dimiliki perusahaan di Indonesia.

Menjadi Solusi

Semoga dengan akan dibentuknya Lembaga Pengelola Investasi Indonesia (LPII) dapat menjadi solusi pembiayaan pemulihan ekonomi nasional sehingga volume utang  luar negeri pemerintah maupun swasta dapat ditekan untuk menggerakkan ekonomi nasional.

Model bisnisnya seperti apa dan sumber dananya dari mana, kita tunggu PP-nya lahir. Premis pemulihan ekonomi umumnya harus dimulai dari investasi yang relatif tinggi. Agar bisa terwujud diperlukan suku bunga yang rendah dan angka ICOR yang rendah. LPEM-UI pernah melakukan kajian bahwa angka ICOR Indonesia rata-rata sebesar 5,88 antara tahun 2014-2018.

Kita masih berharap, semua bisa berubah menuju yang lebih baik. Adanya UU-CK nomor 11 tahun 2020,dan 39 PP yang akan menyertainya dan lahirnya LPII kita harapkan investasi di Indonesia dapat menjadi lebih efisien yang ditandai dengan angka ICOR dan suku bunga yang rendah yang berarti bahwa pemulihan ekonomi harus berangkat dari titik episentrum kurs rupiah yang kuat dan inflasi yang rendah serta koordinasi kebijakan dan progam yang makin harmonis , tidak terjadi lagi tumpang tindih dan harapannya adalah adanya jaminan kepastian hukum. (penulis adalah pemerhati ekonomi dan industri,tinggal di Jakarta).

Berita Terkait

Komentar

Komentar