UMKM Grobogan Kontak Dagang ke Bali

Laporan: Redaksi

Ilustrasi

Ilustrasi

GROBOGAN, (Tubas) – Sebanyak 30 pelaku usaha dari Kabupaten Grobogan, 11-15 Mei lalu berangkat ke Provinsi Bali melakukan kontak dagang langsung dengan beberapa pengusaha besar di Auditorium Dinas Pasar Provinsi Bali.

Hal itu menikdaklanjuti pertemuan beberapa waktu lalu di ruang Bupati Grobogan dengan pengusaha asal Bali yang berminat menjalin kerja sama dengan para pelaku usaha produk olahan makanan ringan dan handycraft (kerajinan tangan) hasil produksi usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) Kabupaten Grobogan, baru-baru ini.

“Kami memfasilitasi pelaku UMKM di Grobogan untuk bertemu enam pengusaha besar di Bali. Kita bekerja sama langsung dengan Pemprov Bali. Mereka akan berangkat ke Pulau Dewata pada Rabu 11-15. Kami berharap ada produk Grobogan yang bisa dijual di sana. Langkah ini termasuk program kontak dagang dengan tujuan mengembangkan pemasaran hasil produk UMKM Grobogan,” kata Kepala Dinas Koperasi dan UKM Grobogan, Drs Karsono MPd melalui Kepala bidang UMKM R Lasino SIP, ketika ditemui Tubas di kantornya, pekan lalu.

Menurutnya, makanan ringan hasil produksi rumahan dari Grobogan, tidak kalah dengan produk daerah lain, baik rasa, kualitas dan kemasannya. Produk makanan ringan antara lain, keripik tempe, krupuk, kue garut, telur asap, sale pisang, emping mlinjo, emping singkong, keripik pisang, madu lebah, teh celup dan kopi dari Bunga Rosela, serta kerajinan kayu seperti tempat rokok, tempat pensil, tempat tisu dan tas kulit.

Semua dibawa untuk melengkapi acara kontak dagang di sana. “Rata-rata para pelaku UMKM di sini masih terkendala pemasaran. Oleh sebab itu melalui sistem kontak dagang langsung, kita berupaya menembus pasar,” katanya.

Diakui oleh Lasino, produksi yang dihasilkan para pelaku usaha di Grobogan sudah ada delapan jenis makanan ringan yang berhasil masuk ke ritel pasar modern. Namun omzetnya masih perlu ditingkatkan. Terkait melakukan kontak dagang dengan pengusaha di Bali, Sekda Grobogan, Sutomo HP memberi dukungan.

“Agar bisa menarik konsumen dan laku terjual, produk yang dihasilkan perlu ada uji kompetensi dan harus punya sertifikat halal,” katanya. (sofi)

Berita Terkait

Komentar

Komentar