UMKM Jawa Tengah, Jadikan Ancaman Resesi Global Sebagai Peluang Bisnis

Loading

SEMARANG, (tubasmedia.com) – Adanya ancaman resesi global yang terjadi di tahun depan, membuat sejumlah negara mengambil kebijakan penyelamatan. Bahkan Indonesia juga melakukan hal yang sama, agar ekonomi tetap berjalan dan bertumbuh.

Namun, pelaku UMKM di Jawa Tengah akan memandang ancaman resesi tahun depan sebagai peluang bisnis guna memasarkan produknya di dalam negeri saja.

Kepala Dinas Koperasi dan UKM Jateng Ema Rachmawati mengatakan resesi bisa saja tetap dirasakan para pelaku UMKM, karena dimungkinkan harga barang mengalami kenaikan.

Ema menjelaskan, ancaman resesi di dalam negeri diperkirakan tidak sama dengan luar negeri. Yakni, kenaikan harga barang sampai tidak terjangkau masyarakat.

Menurut Ema, untuk bangsa Indonesia selama ini tidak terlalu bergantung kebutuhan yang dipasok dari luar negeri.

Semisal minyak goreng saja, masyarakat Indonesia bisa membuat sendiri. Selain itu, kebutuhan pangan juga bisa dilakukan sendiri dengan menanam komoditas sesuai kebutuhan.

“Besok tahun 2023 kita belum tahu ya. Tapi saya optimisnya gini, Indonesia bukan negara yang bergantung pada orang lain. Kita bisa

Nah ini yang kita lagi dorong adalah kita jualan di pasar lokal saja, untuk memperkuat di pasar lokal daripada di luar negeri yang ongkos kirimnya mahal,” kata Ema saat ditemui di Hotel Po Semarang, belum lama ini.

Lebih lanjut Ema menjelaskan, untuk menghadapi adanya wacana resesi di tahun depan itu para pelaku UMKM asal Jateng sudah bersiap diri.

Hal itu dibuktikan pada saat pameran di Sulawesi Selatan, produk-produk pelaku UMKM asal Jateng mendapat sambutan positif dan mendatangkan reseller cukup besar.

“Contohnya produk fesyen atau pakaian dari Jateng, itu sampai punya kontrak Rp5 miliar hanya dengan Sulawesi Selatan saja. Artinya tidak perlu memasarkan ke negara lain cukup di dalam negeri saja,” jelasnya.

Ema menyebutkan, saat ini Jateng juga kebanjiran permintaan akan kopi.

Tercatat, ada permintaan kopi asal Jateng hingga 290 ton dan hal itu akan dipenuhi secara bertahap.

“Permintaan itu datang dari dua pabrik kopi terbesar. Sebenarnya mereka butuh ribuan ton kopi, tapi kita baru bisa penuhi 300 ton saja untuk robusta sedang arabika baru 30 ton,” imbuh Ema. (sabar)

 

 

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.