Untung ada Prof Rhenald Kasali Saat Bahas Freeport

Oleh:Michael Edwin Sendow

 

SEMALAM saya nonton ILC, kontennya bagus, isinya seru dan panas. Banyak orang pintar bicara di sana, namun rupanya nyempil juga diantara orang-orang pintar itu dua manusia sok pintar yaitu Fahri kumisan dan Professor Rocky Gerung.

Kali ini saya akan membahas sedikit soal si Gerung yang sok pintar ini. Memalukan dan menyebalkan soalnya. Lihat saja cara dia ‘mempermalukan’ wakil dari Inalum dan juga Ngabalin. Cuman jubir katanya jadi pasti nggak tau apa-apa.

Gayanya itu lho, persis ayam peper nanduk-nanduk, sedikit geleng-geleng dan mata muter-muter persis banget kayak professor lang-ling- lung yang lagi kebingungan.

Ini saya juga jadi bingung lho, itu gaya-gaya seperti itu adalah tanda-tanda orang pintar atau tanda-tanda apa sih? Lalu gayanya macam betul mengatai bahwa wakil Inalum tidak capable-lah dan apapun jawabannya tidak bakalan mau didengar oleh dirinya.

Menurut si Gerung siapa mereka itu? Mereka bukan siapa-siapa karena yang datang bukanlah direksi langsung. Ini professor wanna be keblinger cara berpikirnya. Mereka itu utusan perusahaan, jadi suara mereka suara perusahaan. Inalum saja percaya mereka lalu kenapa dia yang protes?

Harusnya dibalikin begini. Siapa yang ngutus si Gerung dan atas kapasitas apa hadir di situ? Ilmunya apa? Apakah otaknya punya kapabilitas membicarakan tentang Freeport atau hanya sekadar penggembira untuk hadir buat nyinyirin pemerintah?

Herannya si Karni Ilyas masih sudi mengundang orang yang tidak punya kapabilitas bahas Freeport? Apa yang bisa diberikan si professor ini kalau bicara saja nggak jelas dan sok pamer ilmu filsafat meskipun nggak ada hubungannya sama sekali dengan topik pembahasan?

Padahal Freeport bicara soal emas dan sumbar daya alam, bukan bicara filsafat dan sumber daya kata-kata. Buset dah! Kalau saya Karni, mending dia diusir keluar ruangan karena sangat nggak capable bahas Freeport saat itu, bikin malu saja dia duduk di situ nggak tau mau ngomong apa.

Jangan Heran

Orang bicara Freeport dia bicara siluet, makanya jangan heran Said Didu menyindir dengan mengatakan bahwa diskusi ini nggak jelas oleh karena yang lagi dibahas soal kuku eh ada yang bicara masalah rambut. Lagi bahas apa eh dia komentarin apa.

Anda tahu, Freeport McMoran akhirnya telah menyepakati apa yang Pemerintah Indonesia minta, yaitu divestasi saham PT Freeport Indonesia (PTFI) sebesar 51 persen. Nah, ini artinya Indonesia bakal menjadi pemilik saham mayoritas sebesar 51 persen di PT FI.

Soal ini saja sudah sepatutnya kita syukuri bukan nyinyiri kayak nenek lampir kehabisan sirih. Presiden Direktur Freeport McMoran sendiri menyebut dengan kepemilikan saham mayoritas tersebut, Pemerintah Indonesia bisa mendapatkan penerimaan hinggah puluhan miliar dollar AS, tolong jangan lupakan itu. Sekarang bukan waktunya mempolitisasi soal Freeport, bung!

Proses divestasi 51 persen saham PTFI yang dilaksanakan oleh PT Indonesia Asahan Alumunium atau Inalum selaku induk holding BUMN di bidang pertambangan saja telah menguras banyak energi dan waktu, hingga akhirnya terjadilah kesepakatan resmi tersebut. Setelah itu, maka Inalum harus pula menggelontorkan dana sekitar 3,85 miliar dollar AS untuk mengambil alih 51 persen saham Freeport secara real.

Nominal 3,85 miliar dollar AS itu digunakan untuk membeli 40 persen hak partisipasi atau Participating Interest (PI) Rio Tinto di PTFI serta 100 persen saham Freeport McMoran di PT Indocopper Investama dengan porsi 9,36 persen saham di PTFI. 40 persen hak partisipasi Rio Tinto yang dibeli Inalum akan dikonversi jadi saham sehingga total yang dimiliki Indonesia nanti sebesar 51,38 persen.

Itu bicara angka-angka. Kita tidak harus ngotot menguliti presisi angka-angka itu, yang menurut Said Didu ‘hanyalah’ proyeksi excel. Itu nggak subtansial, karena yang pasti Indonesia adalah pemilik mayoritas. Dan itu legal. Itu dulu.

Gerung pasti nggak paham soal-soal seperti itu makanya dia nggak masuk ke situ, yang dia bahas adalah kulit luar dan kebanyakan teori using. Apa yang dia bicarakan sangat bisa dijabarkan oleh anak semester satu fakultas ilmu filsafat, nggak butuh pemikiran seorang professor.

Langsung Dibantah

Ambil contoh, ia menyampaikan teori resources curse ketika membahas mengenai persoalan Freeport. Apa hubungannya coba? Dan lagi, yang dia ungkapkan ternyata teori using yang kemungkinan baru saja dia dapat dari google hahaha.

Menariknya teori itu langsung dibantah oleh Prof Rhenald Kasali yang menyebut itu adalah teori using yang sudah terbantahkan. Komentar Prof Rhenal yang tak sampai 10 menit langsung melululantahkan semua argument using yang coba dibangun si Gerung. Kasian deh.

Gerung jelas terlihat hanya pandai beretorika dan memamerkan kata-kata tinggi supaya terlihat pintar. Ini benar-benar mendegradasi kualitas lulusan perguruan tinggi negeri ternama. Kualitas seorang Gerung memang pantas dipertanyakan. Dia sering diundang ke ILC dalam kapasitasnya sebagai apa gitu?

Semalam Rocky Gerung mengatakan apabila berdasarkan teori resource curse, negara dengan banyak sumber daya hancur karena sumber daya itu sendiri. Teori ini langsung dibantah oleh Guru Besar Universitas Indonesia, Rhenald Kasali. Menurutnya yang menghancurkan sebuah negara bukan lagi sumber daya melainkan sistem politik negara itu sendiri.

Malah kalau saya pelajari, teori itu sudah kerap diperdebatkan sejak tahun 1950-1960 an, meskipun belum disebut sebagai ‘kutukan’. Nah, ungkapan resource curse pertama kali didengungkan oleh Richard Auty pada tahun 1993. Dan teori itu sudah terbantahkan.

Teori yang juga dikenal dengan paradox of plenty adalah sebuah teori yang coba menunjukkan hubungan antara negara-negara yang memiliki sumber daya alam berlimpah, justru cenderung menunjukkan gejala pertumbuhan ekonomi yang menurun atauy melemah.

Negara-negara kaya sumber daya alam ini memiliki pertumbuhan ekonomi, serta demokrasi lebih rendah dibanding negara-negara yang memiliki sumber daya alam sedikit.

Secara logika sederhana saja teori ini bisa dibantah. Bagaimana mungkin negara kaya sumber daya alam kemudian mengalami ‘kutukan’ sehingga pertumbuhan ekonomi dan demokrasinya lebih buruk dari yang sedikit sumber daya alamnya. Ini korelasinya hampir nggak nyambung. Makanya, penelitian membuktikan bahwa yang membuat sebuah negara itu pertumbuhan ekonomi dan demokrasinya menjadi buruk itu sama sekali bukan karena sumber daya alamnya melimpah melainkan disebabkan oleh sistem politik dan para pelaku politik di negara itu sendiri. Siapa tau termasuk si Gerung inilah salah satu penyebabnya ha ha ha. Jadi nggak ada kutukan itu, bung!

Pemerintah sudah berusaha keras untuk mendapatkan saham tersebut. Inilah momentum tepat yang dilihat dengan sangat jeli oleh Jokowi, yaitu menjelang kotrak Freeport akan berakhir. Tetapi orang-orang yang sok tahu semacam Rocky Gerung inilah yang membuat banyak orang kurang bersyukur atas upaya-upaya pemerintah dibawah kendali Presiden Jokowi.

Semoga Karni tambah cerdas dalam memilih siapa yang pantas hadir untuk membahas topik-topik tertentu yang perlu kapabilitas pemikiran yang sesuai. Jangan mau bahas Freeport kok ahli filsafat, padai berbahasa ‘semlohay’ yang diundang. Ya kacaulah…. Kacau dunia persilatan!*

Berita Terkait

Komentar

Komentar