Usaha Kecil, Potensi Besar

Oleh: Enderson Tambunan

Ilustrasi

DALAM menggali potensi daerah perlu dicermati kiprah usaha kecil dan menengah. Di sejumlah daerah, banyak usaha atau industri kecil dan menengah (UKM) yang sukses mengembangkan komoditas khas setempat. Contohnya banyak. Bisnis atau industri rumahan itu pada gilirannya akan menjadi besar terutama jika berhasil dikelola dengan membuka cabang di berbagai tempat dan atau dengan sistem waralaba. Kalau satu usaha sudah mampu menjalankan franchise, tentu itu sudah besar. Tak sedikit usaha demikian berhasil dikembangkan hingga punya banyak cabang.

Menarik penjelasan Direktur Jenderal Industri Kecil dan Menengah (IKM) Kementerian Perindustrian Dra Euis Saedah MSc, yang menyebutkan bahwa usaha/industri skala kecil dan menengah menyerap banyak tenaga kerja. Potensinya untuk mengurangi jumlah pengangguran di Tanah Air, amat besar. Mereka yang bekerja pada usaha skala kecil sungguh banyak.

Sebut saja contoh bengkel sepeda motor. Bila satu sepeda motor kecil mempekerjakan dua-tiga orang, bayangkan begitu banyaknya tenaga kerja yang diserap oleh bengkel-bengkel sepeda motor yang tersebar di mana-mana. Keberadaan sepeda motor, sebagai alat transportasi, cukup potensial menumbuhkan banyak usaha perbengkelan. Jumlah sepeda motor di Jakarta, misalnya mencapai sembilan juta. Nah, jutaan sepeda motor ini tentu membutuhkan banyak bengkel. Belum lagi di kota-kota besar lainnya.

Melihat besarnya potensi di belakang bisnis sepeda motor, seorang rekan memutuskan pilihan membuka satu bengkel sepeda motor. Ia memilih lokasi usaha di pinggir jalan yang cukup ramai lalu lintasnya. Awalnya, ia membuka usaha tambal ban. Usaha itu dia kembangkan dengan menjual minyak pelumas, minyak rem, ban, dan lainnya. Lanjutannya, dia membuka bengkel sepeda motor. Agar pelayanan lebih bermutu dan cepat, dia pun mempekerjakan seorang montir dengan dua anak buah.

Mereka yang membuka usaha secara kecil-kecilan, dan jumlahya begitu banyak, patut diperhatikan. Terkait dengan itu, rencana beberapa institusi untuk mendirikan pusat usaha kecil dan menengah atau UKM center, patut didukung agar terealisasi secepatnya. Jangan sampai rencana tersebut “masuk angin” hingga kemudian tinggal rencana. Tentu, yang kita harapkan, UKM center mendatang sungguh-sungguh berperan sebagai pengembang secara menyeluruh, mulai penyedia bahan baku hingga pemasaran dan pelatihan. Institusi tersebut harus mampu melindungi dan mengembangkan usaha anggota.

Sejauh informasi yang kita peroleh, UKM center nanti akan menjadi “rumah” bagi UKM. Ia akan menjadi lembaga yang mampu memberikan solusi atas masalah yang dihadapi anggota. Diharapkan pula, lembaga itu akan menjadi pengendali harga, sehingga para anggota tidak sampai terpuruk oleh permainan harga.

Pemerintah sudah lama memberikan perhatian pada pembinaan UKM. Itu antara lain dilihat dari pembentukan lembaga-lembaga yang menangani UKM. Tentu “tangan-tangan” ini yang mesti dikonsentrasikan supaya daya juangnya lebih besar, mampu menerjang sekat-sekat dan punya kualitas sebagai lembaga yang menganut transparansi dan akuntabel.

Yang patut kita ingat bahwa UKM rentan terhadap beberapa masalah, misalnya, menyangkut permodalan dan bahan baku. Sebagai contoh, hari-hari belakangan ini, kita tersentak oleh berita banyak perajin tahu-tempe mengurangi aktivitasnya, karena naiknya harga bahan baku (kedelai). Masalahnya, kebutuhan kita akan kedelai masih bergantung pada impor. Koq bisa begitu, padahal, kita adalah pasar potensial tahu tempe? ***

Berita Terkait

Komentar

Komentar