Usaha Membangun Watak

231014-pangestu

SESEORANG yang ingin mencapai hidup sejahtera, tenang dan damai harus memiliki kedewasaan jiwa dan dapat hidup mandiri. Ciri orang yang telah dewasa jiwanya dan mandiri adalah tidak adanya keragu-raguan dalam dirinya. Tidak ada keragu-raguan karena ia percaya pada diri sendiri, yang berdasarkan percaya penuh kepada kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa. Hal ini diperolehnya karena usahanya membangun wataknya sendiri.

Jika kita menyoroti kata keragu-raguan, dengan sendirinya ada hubungannya dengan perbuatan. Seseorang menjadi ragu-ragu saat ia harus berbuat sesuatu, baik perbuatan itu berbentuk mental maupun fisik, meskipun itu pun hanya dalam ‘ucapan’ saja. Jika kita ragu-ragu ketika akan melakukan sesuatu perbuatan, hal ini berarti kita belum menetapkan suatu pilihan yang pasti, lepas dari hasil atau kenyataan, apakah pilihan itu tepat atau tidak.

Sesungguhnya, setiap perbuatan kita dalam bidang apa pun, tidak dapat lepas dari menghadapi pilihan terlebih dahulu, meskipun prosesnya dalam pikiran atau perasaan yang berlangsung secepat kilat, berdasarkan pengalaman-pengalaman yang telah mengendap, sehingga penentuan pilihan yang terjadi tanpa disadarinya sendiri. Masalah penentuan pilihan; pilihan sikap dan pilihan perbuatan, kedua-duanya menunjukkan: “apakah yang dipilih benar atau salah.” Setiap manusia mempunyai otonomi untuk memilih, dan memang manusia mendapat kebebasan dari Tuhan untuk memilih.

Kemudian akan timbul pertanyaan, bagaimana kita dapat tanpa ragu-ragu menetapkan pilihan yang benar dan tepat? Jawabannya adalah pilihan yang pasti benar dan tepat hanyalah jika penentuan pilihan itu dilakukan dengan bijaksana. Akan tetapi, bagaimana kita mengetahui bahwa keputusan itu atas dasar kebijaksanaan kita sendiri? Berarti untuk memiliki ketidak ragu-raguan saat menentukan pilihan, harus belajar menjadi pribadi yang bijaksana dahulu.

Seseorang akan dapat menjadi bijaksana, jika dalam kehidupannya sehari-hari selalu sadar dan percaya kepada Tuhan/Allah sebagai satu-satunya Sembahannya. Tidak ada yang disembah kecuali Allah. Kesadaran diperlukan sebagai dasar untuk memiliki watak bijaksana. Oleh karena yang Mahabijaksana hanyalah Allah. Manusia dapat menjadi bijaksana jika ia sungguh sadar dan percaya akan ke-Mahabijaksanaan Allah. Jika keyakinannya kepada Tuhan tidak utuh, maka sampai kapan pun sulit menjadi manusia yang bijaksana. Berarti sadar sebagai hamba Tuhan dan percaya sungguh-sungguh pada Mahabijaksana Tuhan adalah modal dasar dalam usaha membangun watak manusia, agar dapat menjadi manusia yang utama, anak bangsa yang berguna, dan pribadi yang mandiri.

Kesadaran dan kepercayaan seseorang tidak akan utuh/bulat jika orang itu tidak berusaha membangun budi pekerti yang baik. Membangun budi pekerti yang baik dimulai dengan mengendalikan nafsu-nafsu manusia yang buruk agar tidak menguasai dirinya. Dia harus berusaha selalu berpikir positif (positive thinking), sampai dia dapat menghadapi masalah-masalah yang menghampirinya dengan kejujuran dan kesabaran. Sebab, jika seseorang tidak jujur dan sabar dalam menghadapi masalah, pasti ia membohongi dirinya sendiri dan selalu tergesa-gesa dalam mengambil keputusan. Akhirnya, kecewa atas pilihannya dan tidak mau menerima kenyataan dengan marah-marah (mungkin marah dengan dirinya sendiri). Hal seperti inilah yang membuat orang menjadi ragu-ragu lagi ketika dihadapi masalah. Sebab ia selalu kecewa atas pilihannya sendiri. Orang seperti itu tidak mungkin menjadi manusia yang bijaksana, dewasa jiwanya, dan hidup mandiri. Oleh karena itu, mari kita berusaha membangun watak, agar dapat memiliki jiwa dewasa. Dimulai dari belajar berpikir positif.

Memang bukanlah hal mudah dalam usaha membangun watak menjadi watak yang utama. Akan tetapi selama kita percaya, bahwa Tuhan akan menuntun hamba yang sungguh taat kepada semua perintah-Nya, dan mau berjalan di jalan benar, maka tidak ada yang tidak mungkin di dunia, asal ada usaha pasti ada jalan.***

(Disarikan dari Majalah Dwija Wara No. 3, Tahun X, hlm 64)

Berita Terkait

Komentar

Komentar