Warga Tidak Konsekwen, Si Corona akan Semakin Merajalela

Oleh: Sabar Hutasoit

 

TIDAK satupun manusia di muka bumi ini saat ini yang tidak ingin agar virus corona segera sirna dari negerinya dan lingkungannya termasuk warga negara di Indonesia. Masing-masing sangatlah mendambakan itu, apalagi aparat pemerintahnya telah berbuat semaksimal mungkin agar negeri yang dipimpinnya segera pula bebas dari serangan virus yang sangat mematikan tersebut.

Sejumlah aturan dan tata tertib sudah diterbitkan para pengelola negeri ini. Dari mulai cuci tangan, pake masker, dilarang keluar rumah jika tidak terlalu penting bahkan kerja dan sekolah-pun sudah ditetapkan semua dari rumah.

Berkumpul lebih dari lima orang juga tidak diizinkan bahkan berdiri dengan sesama pun sudah harus jaga jarak paling dekat satu meter. Demikian juga mudik lebaran tahun ini sudah tidak diperbolehkan. Semua intinya untuk memutus mata rantai penularan virus corona antarsesama.

Untuk menghentikan arus mudik, pemerintah telah mengerahkan aparat keamanan untuk berjaga-jaga di perbatasan kota dengan tujuan melarang warga untuk mudik dan jika ketahuan mudik, kendaraan tersebut disuruh balik arah ke arah semula.

Akan tetapi warga yang nekat tetap bersikeras untuk mudik, mencari jalan-jalan tikus. Demikian juga warga yang masih tinggal di Jakarta misalnya, masih tidak konsekwen menuruti aturan yang sudah diterbitkan pemerintah.

Tidak Mengindahkan

Seperti yang terjadi baru-baru ini atau sepekan menjelang lebaran, pedagang dan pengunjung di beberapa pusat perdagangan, sebut saja Pasar Tanah Abang Jakarta Pusat, sudah memadati pasar dan tidak lagi mengindahkan aturan jarak jarak dengan pake masker. Sudah bebas seperti tidak terjadi apa-apa mereka hanya konsentrasi penuh mencari barang yang sedang mau dia beli. Bahkan anggota Satpol PP yang diturunkan mengawasi, tampaknya tidak bisa berbuat banyak dan bisanya hanya bengong menonton keramaian yang melanggar sosial berskala besar (PSBB).

Tidak hanya di Tanah Abang Jakara Pusat. Di beberapa kota seperti kota hujan Bogor juga demikian halnya, konsumen dan pedagang sudah menyatu memadati pasar untuk bertransaksi.

Padahal, menurut para ahli, garda terdepan untuk memerangi wabah pandemi Covid-19 atau yang sering disebut Corona, adalah anggota masyarakat. Merekalah yang berada di garis paling depan melakukan perlawanan dengan si virus corona, bukan para tenaga medis.

Karena itu, jika ada pendapat yang menyebut, garda terdepan melawan si corana adalah petugas medis, kesimpulan itu kurang tepat sebab tugas tenaga medis adalah ibarat palang merah di medan perang, petugas medis hanya mengobati tentara yag tertembak saat perang dan tidak ikut memanggul senjata untuk berperang.

Demikian juga melawan virus corona, Yang berperang di garis depan dengan si corona adalah masyarakat itu sendiri dan jika masyarakat ada yang terserang virus, baru tenaga medis turun tangan membweri pertongan secara medis.

Artinya, jika perlawanan yang dilakukan olehwarga terhadap si corona melemah, maka si corona sebagai musuh akan semakin kuat menyerang mangsanya.

Alat perang yang akan dipakai warga masyarakat untuk memerangi si corona, sudah disiapkan oleh pemerintah melalui aturan dan tatatertib tentunya yaitu jangan keluar rumah jika tidak penting dan jaga jara, rajin cuci tangan serta pakai masker.

Hanya itu alat perangnya dan jika alat perang itu tidak dipakai, maka si corona sebagai musuh akan leluasa menembus pertahanan kita.

Nah, karena itu jika warga masyarakat tidak disiplin, tidak tertib, tidak taat aturan dan selalu melakukan perlawanan, kapan si corona akan kita usir dari muka bumi ini ?

Karena itu jika ada pertanyaan muncul di benak kita, kapanlah si corona akan mudik ke sarangnya, jawabannya ada di kita sendiri yakni disiplin tinggi dan taati peraturan WHO (organisasi kesehatan dunia) serta aturan pemeritah kita. Di luar itu tidak ada alat perang melawan si corona. Maukah saudara ? (penulis seorang wartawan, tinggal di Jakata)

 

 

Berita Terkait

Komentar

Komentar