Xi Jinping dan Donald Trump Berhentilah Saling Bermusuhan

Oleh: Fauzi Azis

 

PERTAMA, apa yang kita ikuti dalam setiap pemberitaan dari manapun sumbernya selalu menarik disimak, apalagi jika ada hal-hal baru yang diulas. Penulis ingin share dengan   membuat  sebuah tema berjudul “Era Kebangkitan Besar Menghasilkan Kegalauan Besar Dalam Dua Kutub Berbeda”.

Konteksnya adalah kebangkitan besar China sebagai super power baru. Dan kegalauan besar yang dialami AS ketika China muncul sebagai kekuatan penyeimbang, bahkan mampu mengunggulinya.

KEDUA, kegalauan besar adalah menjadi pertanda stress. AS sedang mengalami situasi ini ketika para ahli sejarah dunia dan para ahli hubungan internasional mengatakan bahwa ketika China mengusai dunia, maka yang tengah berlangsung adalah pergeseran peran, dimana China tidak terelakkan lagi akan menjadi kekuatan pengendali ekonomi global menggeser peran AS di abad ini.

Reformasinya menjadi keniscayaan dan berhasil  membuat dahsyat China di balantika dunia. Apakah ini yang dinamakan refleksi kebangkitan Dunia Timur dan menjadi akhir dari Dunia Barat. Hanya mereka yang paling tahu, dan kita hanya bisa menonton.

Satu pertanyaan apakah dunia akan menjadi lebih damai dan lebih baik dengan hadirnya kepemimpinan global China. Kembali tergantung dari kubu Barat dan kubu Timur memerankan diri mereka. Yang jelas, perang dingin sudah berlangsung, yang jika tidak muncul wisdom bisa berubah menjadi “perang panas”?

KETIGA, kondisi umum yang digambarkan adalah bahwa AS sendiri tengah mengalami kemerosotan dan keterpurukan ekonomi. Situasi ini jelas diakui oleh AS dan secara vulgar ditunjukkan sendiri oleh Donald Trump melalui keputusan politik yang di luar dugaan, yakni AS menerapkan kebijakan proteksi dengan slogannya America First. Langkah ini ditempuh untuk melakukan konsolidasi ekonomi. Negeri paman sam ini terobsesi begitu dalam karena sejak tahun 1945,menjadi kekuatan dunia paling dominan, baik di bidang politik, ekonomi, IPTEK, dan militer.

Tak Tergoyahkan

KEEMPAT, kedudukan globalnya tampak tak tergoyahkan dan pada pergantian milineum istilah hyper power serta unipolaritas (kutub tinggal)  diciptakan untuk menyebut apa yang terlihat sebagai sebuah bentuk kekuasaan yang baru dan unik kata para ahli internasional menjelaskannya.

Kini kita menyaksikan sebuah perubahan historis yang disuratkan mengubah dunia. Saking percaya diri akan kedudukan globalnya, AS sangat berambisi untuk mempertahankan kepemimpinan global, dan berupaya mencegah munculnya pesaing potensial. Tapi dunia berkata lain, China yang komunis tapi sangat kapitalistik dan liberalistik yang tidak demokratik hadir bukan sebagai sekutu baru, tapi justru  sebagai pesaing baru yang dahsyat kekuatannya.

Padahal dunia berharap agar AS dan China menjadi penjaga pasar yang kompak untuk menciptakan stabilitas dan pertumbuhan ekonomi global. Namun fakta berkata lain, yaitu mereka justru BERSETERU.

KELIMA, gambar besarnya kekuatan ekonomi Barat dengan cepat dilibas negara-negara berkembang dalam ukuran perekonomian. China adalah pemimpinnya. Kebangkitan ini telah menghasilkan pergeseran signifikan dalam perimbangan kekuatan ekonomi global. Inilah konteks yang sebenarnya tengah berjalan, yaitu kebangkitan besar menghasilkan sebuah kegalauan besar.

China bangkit, AS dan sekutunya ” loyo”.Yang paling membuat sakit adalah bahwa China tampil mengesankan menjadi pemasok, kreditor, dan sekaligus investor dan banker untuk konsumen AS. Sontoloyo si naga kuning ini.

Bagi AS tentu menjadi pukulan berat karena pada saat yang sama, AS sendiri ekonominya sedang terpuruk dan merosot tajam, dimana AS mengalami high extent of stress karena terjadi defisit ganda berkelanjutan pada neraca perdagangan, neraca pembayaran, dan defisit APBN-nya.

KEENAM, kita melihat panggung dunia baru, yang tata panggungnya sedang diubah oleh pendatang baru sebagai sutradara baru dan bahkan tampil sebagai aktor baru di panggung politik, ekonomi, IPTEK dan militernya.

Konflik

Proses ini yang melahirkan konflik panas diantara dua raksasa, AS dan China. De facto mereka berdua adalah pemimpin ekonomi dunia di abad ini. Tapi AS sepertinya  “tidak rela” dengan status tersebut karena AS menganggap dialah tetap pemimpin dunia.

AS sesungguhnya tengah menghadapi tantangan, dan dia yang harus menjawabnya sendiri. Kata para ahli hubungan internasional, ada dua pertanyaan yang harus dijawab, yakni:  1)  Apakah AS memiliki visi untuk membangun di atas prestasi dasawarsa-daswarsa sebelumnya?

2)  Apakah AS memiliki tekad untuk membentuk sebuah abad baru yang menguntungkan bagi prinsip-prinsip dan kepentingan-kepentingan Amerika. Jawaban atas dua pertanyaan tersebut tentu akan mempengaruhi peta geopolitik dan geoekonomi  global diwaktu mendatang.

KETUJUH, dunia nampaknya sudah sangat mendesak butuh pemimpin yang natural yang benar-benar mempunyai visi perdamaian yang juga natural. Dunia hari ini dan ke depan membutuhkan ekosistem baru yang bisa diterima semua pihak. Ekosistem baru yang bisa menciptakan perdamaian abadi bagi umat manusia sedunia.

Pemimpin natural yang kita kehendaki adalah yang bisa menghargai dan memahami makna kedaulatan dan konsep negara berdaulat. Karena itu, dunia sangat membutuhkan kerjasama yang baik untuk mengatasi problem-problem dunia yang masih berserakan dimana-mana.

Semua problem itu berlabel global, yaitu ketidakadilan global, utang global, pemanasan global, perdagangan global, sistem keuangan global ,sistem cadangan devisa global, sistem kapitalisme global dan lain-lain. Penulis percaya apakah dia  Xi Jinping atau Donald Trump atau siapapun, mereka kelak tak akan mampu mengatasi masalah-masalah tersebut sendiri karena kekuasaan dan kekuatan selalu ada batasnya. Sisa dunia yang masih ada ini tidak tepat dipimpin dengan tangan panas karena dunia butuh perdamaian abadi.

KEDELAPAN, itu harapan kita sebagai warga dunia. Tapi ketika pandemi covid-19 mendunia dengan banyak korban yang meninggal, musibah ini justru dibaca sebagai peristiwa politik besar yang membuat hubungan AS-China memanas.

Mereka saling tuduh dan saling mencari pembenaran yang konon dilandasi oleh laporan intelejen masing-masing negara. Ketidak pastian kian memuncak dan pertumbuhan ekonomi makin mengempis hingga mendekati lumpuh total.

Unjuk Kerja

KESEMBILAN, ancaman yang nyata terlihat adalah manuver kekuatan militer. China bergerak di laut China Selatan dan AS dengan kapal induknya muncul di selat Taiwan dan unjuk kerja pesawat jet tempur baru F-22 Reptor.

Di bidang ekonomi, psywarnya cukup mengerikan. Ada beberapa pesan yang dapat kita tangkap dari berita yang beredar yakni: 1) AS akan melakukan perang dagang baru dengan China dalam skala yang lebih besar nilainya. 2) AS juga merencanakan untuk menghambat pelepasan obligasinya yang ada di tangan China dan mungkin juga termasuk US treasurynya. 3).China kelihatannya tidak begitu tertarik dengan ancaman perang dagang. Tapi justru yang mengagetkan adalah adanya rencana China untuk membatalkan dolar AS dalam transaksi di bursa dan mengganti sepenuhnya dengan mata uangnya sendiri, yakni Yuan. Dolar AS didepak keluar dalam sistem perdagangan China, dan hampir dapat dipastikan nilai dolar AS akan rontok.

Dampaknya hampir dapat dipastikan pasar keuangan dan pasar modal global akan tergoncang luar biasa. Semoga hal ini tidak terjadi.

KESEPULUH, pergeseran selalu cenderung melahirkan gesekan karena ini menyangkut pride dan kepentingan yang jelas berbeda visi dan misi dari dua adidaya tersebut, meskipun sesungguhnya mereka juga bermitra. Kita memang dapat lihat dalam urusan pengendalian sistem keuangan dan moneter global kekuatan AS tak tergoyahkan hingga kini. Faktanya: 1)  dolar AS menjadi mata uang utama dunia. Sebagian besar perdagangan dilakukan menggunakan dolar AS. Sebagian besar pula cadangan devisa semua.negara di dunia disimpan dalam mata uang yang sama.

Inilah yang kemudian dolar AS disebut sebagai aset safe haven atau aset minim risiko. 2) AS menjadi pengendali utama IMF dan Bank Dunia. Lewat dua lembaga ini sistem pemungutan suaranya secara langsung membuat Barat tetap mendominasi, meskipun andil Asia pada GDP telah meningkat dengan lompatan-lompatan besar sejak tahun 1945.

Suatu aturan tidak tertulis, tapi dihormati oleh semua negara mengatakan bahwa kepala IMF menjadi jatahnya orang UE, dan kepala Bank Dunia menjadi jatahnya orang AS.

KESEBELAS, kemapanan tersebut yang hendak digugat negara-negara di dunia yang bukan sekutu AS dan khususnya kelompok Asia yang dipimpin oleh China dan India.

Tuntutannya juga wajar yakni tata ulang sistem keuangan dan moneter global yang lebih adil dengan arah menciptakan tata ekonomi baru yang makin berimbang.

Makin dirasa adanya kebutuhan terbentuknya kerangka kerja konseptual dan operasional baru menuju terbentuknya arsitektur keuangan global baru yang dapat diterima oleh semua pihak, dan Sistem Cadangan Devisa Global yang memberi ruang kepada negara-negara berkembang dapat menggunakannya untuk membiayai pembangunan dan investasi.

KEDUABELAS, akhirnya, sebagai warga dunia hanya bisa berharap bahwa bersulanglah kembali wahai bangsa China yang besar dan bangsa AS yang besar untuk bersama-sama make road map to peace.

Hentikan saling permusuhan. Bangun kembali dunia baru dengan ekosistem baru yang bermanfaat bagi dunia. Pimpinlah dunia ini untuk penyelamatan ekonomi global yang makin terpuruk dan untuk penyelamatan bumi yang sudah rusak parah akibat climate change dan global warming.

Wahai pakde Xi Jinping dan paman Donald Trump berhentilah saling bermusuhan. Jika anda berdua terus merajuk dan saling ancam, masa depan dunia yang kita tinggali bersama akan sungguh gelap, yang berarti kita kembali akan berada dalam era kegelapan baru yang mungkin ini pertanda akhir dari sebuah peradaban.

Namun jika pakde Xi dan paman Trump termasuk orang-orang yang sabar dan dapat berpikir waras dan tidak egois, serta mau saling bekerja sama dan atas seizin Tuhan Yang Maha Kuasa maka niscaya masih ada kesempatan untuk dunia yang damai sangat terbuka.

Kekuatan sebagai imperium dunia harus diakui ada batasnya.Boleh jadi sekarang menjadi pemimpin peradaban dunia, tapi boleh jadi juga pada satu masa harus rela menyerahkan estafet kepemimpinnya kepada yang lain karena kebangkitan peradabannya.

Begitu pakde Xi dan paman Trump pesan perdamaian ini disampaikan yang kata kakek saya apa yang anda berdua hadapi adalah tidak lebih sekedar wolak walike zaman. Ada zaman normal, ada pula zaman edan. Semoga pakde Xi dan paman Trump segera berdamai, jangan bikin sensasi dan kegaduhan global kerena tidak elok. (penulis adalah pengamat ekonomi dan keuangan)

Humbanghas
Humbanghas

Berita Terkait

Komentar

Komentar