Yang Benar Adalah Aku…

Oleh: Fauzi Aziz

DUNIA tempat kita berada hakekatnya adalah persemaian perilaku dan pemikiran yang senantiasa selalu mewarnai berbagai aspek kehidupan. Ketika perilaku dan pemikiran-pemikiran itu menjadi satu norma dan tindakan, diharapkan dapat menimbulkan efek tertentu bagi yang lebih positif .

Oleh sebab itu, apakah itu demokrasi atau emansipasi, harus dapat menjadi wahana bagi pengembangan perilaku dan munculnya pemikiran-pemikiran baru yang tidak hanya berhenti di menara gading. Tetapi harus di upayakan membumi untuk mengatasi masalah kemanusiaan dan keduniawiannya.

Jadi demokrasi dalam konteks semacam itu adalah sistem yang sejatinya bisa disebut sebagai tempat berselancar kapasitas intelektual mengembangkan perilaku dan pemikiran baru yang lebih pas dipakai sebagai alat mengatasi masalah kemanusiaanyang demakin kompleks.

Banyak sekali fenomena yang berlangsung dalam konteks kemanusiaan dan keduniawiannya. Tanpa disadari ketika manusia bergabung dalam unitas kepertaian dan kenegaraan serta kebisnisan dalam satu kerangka politik, perilaku manusia dan para elitnya menjadi saling berebut.

Apakah saling berebut kekuasaan, saling berebut sumber daya ekonomi, atau saling berebut pengaruh, telah mengakibatkan terjadinya saling silang perbedaan pendapat dan sampai terjadi berbeda pendapatannya sehingga melahirkan konflik, kesenjangan dan rela saling berperang demi kekuasaan.

Nilai-nilai yang bersifat konstruktif bergeser menjadi distruktif, saling merusak dan pada akhirnya tidak ada yang mau bertanggungjawab karena setiap masalah yang terjadi dalam satu aspek kehidupan, penyebabnya tidak ada yang bersifat tunggal.

Sebagai contoh masalah pemanasan global. Semua negara di dunia diminta ikut bertanggungjawab untuk mengatasi, karena penyebab terjadinya pemanasan global bersifat kompleks seiring kemajuan ekonomi, teknologi dan gaya hidup.

Kita tahu semua itu adalah masalah kita, yakni masalah kemanusiaan dan keduniawian sedunia yang konon benar-benar mengglobal. Dalam situasi yang demikian berarti tanpa kecuali semua bangsa dan negara di dunia harus menjadi pemangku kepentingan yang ikut bertanggungjawab mengatasi masalah tersebut.

Sebab itu, diperlukan satu perilaku dan pemikiran baru untuk menciptakan dunia baru yang lebih seimbang. Konsep balancing ini tidak dapat dicapai dengan perilaku lama dan pemikiran-pemikiran yang telah kadaluwarsa karena berbagai aspek kehidupan ini selalu berubah secara dinamis.

Perang militer, perang dagang, perang proxi yang kini terjadi pada dasarnya didorong oleh isu kekinian, dimana manusia sudah dikendalikan oleh perilaku dan pemikiran keduniawian yang lepas kendali.

Kebenaran ditentukan oleh pembenaran yang bersifat subyektif akibat dari perseturan perilaku dan pemikiran bahwa yang benar adalah “aku” dan yang salah bukan aku, tapi kamu.

Ekonomi dengan sistemnya yang dipaksakan diliberalisasi dan menempatkan faktor kapital menjadi panglima perangnya, telah mengubah wajah ekonomi global makin timpang. Dan konon, sistem ekonomi itu sendiri menjadi penyebab malapetaka itu,

Kita tahu bahwa sistem liberal yang bebas ternyata hanya melahirkan ketimpangan ekonomi yang menimbulkan dampak luas terjadinya kesenjangan sosial dan biasanya akan berlanjut akan melahirkan konflik sosial dan celakanya konflik selalu melibatkan si kaya dan si miskin.

Jadi dunia sudah mengalami ketimpangan, baik secara politik, ekonomi maupun sosial. Untuk mem-balancing-nya diperlukan perilaku dan pemikiran-pemikiran baru untuk menciptakan dunia baru yang lebih berimbang. Tantangan globalisasi adalah membangun keseimbangan baru dalam tata politik, tata ekonomi dan tata sosial.

Perilaku baru harus diisi dengan kapasitas intelektual berbasis pada kuatnya rasa keimanan kepada Tuhan dan kapasitasnya dalam hal menjaga keselarasan antara nalar dan nuraninya serta mampu mengendalikan hawa nafsunya.

Terlahir sebagai manusia, tetapi pikirannya terbalut virus kenistaan sehingga dalam beberapa sosoknya tampil sebagai homo animal karena terjebak oleh keduniawian yang sangat mendalam. Misalnya, uang dijadikan obyek mata dagangan dan dijadikan obyek casino capitalism.

Pertemuan WEF di Davos, Swiss 18 Januari 2017, ada berita menarik, tapi sejatinya bukan hal baru, yaitu secara global terjadi ketimpangan ekonomi. Data tahun 2016 yang dirilis di Davos bahwa kekayaan milik 8 orang terkaya dunia sebesar 426,2 miliar dolar AS adalah setara dengan kekayaan 3,6 miliar warga dunia.

Sayangnya forum itu hanya membicarakan masalah ketimpangan global dari perspektif perilaku para pebisnis/pemodal dan perilaku para elit. Tidak mencari tahu dengan seksama mengapa ketimpangan ekonomi terjadi.

Tak ada yang berani mengatakan ada sistem ekonomi yang salah. Katakanlah liberalisme dan kapitalisme yang pada akhirnya forum tersebut tidak mengeluarkan rekomendasi yang substansial mengatasi masalah ekonomi global sebagai pemikiran pemikiran baru.

Jadi dunia diminta terus bersabar dan terus “disandera” oleh sistem ekonomi liberal yang sangat kapitalistik. Lucunya diskusi di WEF tersebut dimulai dengan pertanyan tentang fenomena keterpilihan Donald Trump?

Mengapa Inggris keluar dari Uni Eropa? Mengapa ada gerakan populis dan mengapa ada kritik globalisasi. Ini semua bermuara pada ketimpangan ekonomi. Mengapa tidak mendiskusikan apakah sistem ekonomi liberal masih cocok dipakai sebagai pijakan dalam penyusunan kebijakan ekonomi global ? Entahlah…(penulis adalah pemerhati masalah sosial ekonomi dan industri).

Berita Terkait

Komentar

Komentar