Yang Penting Efisien, Bukan Perdagangan Bebas

Oleh: Fauzi Azis

Ilustrasi

ILMU ekonomi mengajarkan kepada kita tentang pentingnya efisiensi dan produktivitas. Ilmu ekonomi juga yang mengajarkan perlu adanya perdagangan bebas antar negara. Perdagangan bebas adalah salah satu bentuk sistem ekonomi liberal yang memang secara by design dibuat untuk memenangkan doktrin ekonomi neo liberal yang sekarang mendunia.

Karena sifatnya by design, maka semangatnya ada unsur yang bersifat eksploitasi, kapitalisasi keuntungan yang sebesar-besarnya bagi kepentingan pemodal (perusahaan multi nasional dan trans nasional), bahkan ada unsur “menjajah”.

Jangan percaya bahwa perdagangan bebas lahir karena globalisasi. Bukan. Sekali lagi bukan dan kita harus bisa jeli melihatnya. Yang benar adalah neolib ikut bonceng ketika globalisasi mendunia akibat perkembangan teknologi informasi. Cara boncengnya adalah dengan menempelkan perdagangan bebas dengan globalisasi, dan dalam lecture selalu disebutnya dengan istilah globalisasi dan perdagangan bebas.

Agar strategi yang seperti itu mendapatkan legitimasi secara hukum, maka WTO dijadikan ajang pengukuhan berbagai bentuk aturan main yang mengikat semua anggota, tetapi substansi pengaturannya lebih menguntungkan kepentingan negara maju daripada negara berkembang yang kekuatan ekonomi dan daya saingnya tidak sekuat negara maju.

Negara berkembang menjadi ajang “penjarahan” sumber daya alam yang dimilikinya atas nama investasi dan pada sisi yang lain dijadikan “pembuangan produk yang dihasilkan negara maju atas nama liberalisasi pasar. Dalam konteks golobalisasi, seharusnya isu besarnya yang harus dijadikan agenda bersama adalah soal yang terkait dengan aspek membangun efisiensi dan prroduktifitas nasional masing-masing negara, bukan soal liberalisasi pasar yang menjadi intsrumen utamanya untuk membangun efisiensi dan produktifitas nasional.

Kerjasama internasional yang harus dikembangkan semestinya terkait dengan progam-program agar negara berkembang mampu membangun efisiensi dan produktifitas nasional agar negara bersangkutan bisa bersaing secara fair di pasar internasional. Isu kerjasama investasi dan perdagangan seperti yang sering kita dengar selama ini sebenarnya itu bukan merupakan bentuk nomenklatur kerjasama karena realitasnya memang bukan format kerjasama, tapi lebih tepat merupakan format pembukaan pasar/liberalisasi pasar.

Inti membangun daya. saing esensial characternya adalah efisiensi dan produktifitas. Dunia yang sudah saling bergantung konsepsi kerjasama yang dibangun harus berada dalam semangat untuk saling memperkuat, saling mengisi dan saling berkemampuan untuk membangun aliansi dan kolaborasi dengan semangat pembagian kerja internasional (international division of labour).

Kalau semangat yang terus digaungkan adalah liberalisasi pasar atau perdagangan bebas, maka secara emosional akan mudah memicu terjadinya sentimen internasional yang bisa berujung pada semangat perlawanan anti perdagangan bebas, semangat anti neoliberilisme yang akan semakin bergaung keras dan bisa berujung kepada terjadinya perlawanan dalam bentuk lain.

Globalisasi jangan sampai dipersepsikan sebagai sebuah keniscayaan yang kemudian posisi kepentingan nasional menjadi sangat dirugikan karena selalu yang dikatakan oleh para pakar bahwa globalisasi pada dasarnya batas-batas antar negara tidak ada lagi.

Ini menyesatkan dan harus di-clear-kan bahwa globalisasi tidak akan pernah bisa mengicnore soal kepentingan nasional. Buat negara yang berdaulat, kepentingan nasional itu sesuatu yang given dan itu hak setiap negara yang berdaulat untuk selalu memperjuangkannya di forum apapun di dunia.

Jadi isu besar dalam kerjasama antar negara yang paling baik adalah menjawab soal bagaimana efisiensi dan produktifitas suatu negara terbangun, bukan soal perdagangan bebas dan liberalisasi pasar. Semoga bermanfaat.***

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.