Zaman Edan

Oleh : Edi Siswoyo

260115-BUAH-BIBIR-2

ADA ungkapan lama di masyarakat (Jawa) mengingatkan “Zaman edan yen ora ngedan ora kedumam. Sak bejo-beja ning wong sing edan isih bejo wong sing eling lan waspodo” (zaman gila, kalo gak gila gak kebagian. Seberapa untung orang gila masih beruntung orang yang waras)
Ungkapan itu muncul di masyarakat sehubungan kasus penangkapan Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Bambang Widjojanto yang bikin gaduh dan runyam yang terus berlanjut sampai saat ini.

Kerunyaman yang terjadi sepertinya tidak ada batasnya lagi. Berbagai kalangan masyarakat memberikan komentar atas penangkapan wakil ketua KPK oleh Bareskrim Polri. Diantara komentar itu ada yang prihatin dengan kerunyaman yang terjadi di bidang politik dan hukum yang terus silih berganti.

Sepertinya orang tidak lagi mengenal mana kawan mana lawan. Situasi runyam yang terjadi diwarnai disorientasi nilai yang secara kultural digambarkan oleh masyarakat Jawa sebagai zaman edan.

Tidak berlebihan kalangan masyarakat yang merasakan dibalik ketegangan KPK dan Polri sedang terjadi pertarungan nilai sehingga menimbulkan benturan hebat yang menyebabkan ketegangan, kegaduhan dan kerunyaman. Efeknya pun membuat masyarakat terperangah.
Kepolisian telah menjelaskan, Bambang ditangkap atas kasus dugaan kesaksian palsu dalam perkara sengketa pemilihan kepala daerah di Kotawaringin Barat, Kalimantan Selatan. Sementara persengketaan itu sendiri dikatakan sudah diselesaikan tahun 2010 di Mahkamah Konstitusi (MK).

Apa pun alasan yang diberikan penangkapan Bambang telah memunculkan banyak spekulasi yang mengkaitkan kasus penangkapan Bambang dengan perseteruan antara KPK dan Polri seperti yang pernah terjadi pada kasus “Cicak” versus “Buaya”.

Belum selesai kegaduhan pencalonan Komisaris Jenderal Budi Gunawan sebagai Kapolri, Jumat (23/1/2015) muncul kehebohan atas penangkapan wakil ketua KPK Bambang Widjojanto.Tidak berlebihan sementara kalangan yang mengkaitkan peristiwa penangkapan Bambang dengan kontroversi pencalonan Komjen Budi Gunawan sebagai Kepala Polri.

Tindakan penangkapan itu sebagai refleksi hubungan yang tidak harmonis antara Polri dan KPK. Apa yang telah terjadi antara KPK dan Polri tersebut menggambarkan kepada kita kerunyaman yang secara kultural disebut sebagai wujud zaman edan***

Berita Terkait

Komentar

Komentar